Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Uniknya Tradisi Ngerebek Desa Adat Kukuh Marga Tabanan, Krama Tak Boleh Sembahyang Gunakan Kwangen dan Dupa

Juliadi Radar Bali • Rabu, 23 Agustus 2023 | 14:00 WIB

 

RITUAL KHUSUS: Suasana upacara Ngerebek dengan gebogan buah bersusun di Desa Adat Kukuh Marga, Tabanan.
RITUAL KHUSUS: Suasana upacara Ngerebek dengan gebogan buah bersusun di Desa Adat Kukuh Marga, Tabanan.

TABANAN,radarbali.id – Pura Dalem Kahyangan Kedaton di Daya Tarik Wisata (DTW) Alas Kedaton, Desa Kukuh Marga, Tabanan memiliki tradisi unik setiap upacara piodalan. Tradisi itu disebut Tradisi Ngerebeg digelar setiap enam bulan sekali atau saat Anggara Kasih Medangsia sesudah seminggu Hari Raya Galungan dan Kuningan dilaksanakan.

Saat ini tradisi ngerebeg itu berlangsung tepat Selasa (22/8/2023). Tampak terlihat sejumlah krama desa Adat Kukuh berdatangan sejak pagi hari ke Pura Dalem Kahyangan Kedaton untuk melakukan persembahyangan. Mereka selain membawa banten juga membawa gebogan dengan menjunjung aneka buah tersusun rapi.

“Ada sebanyak 12 banjar pakraman mengikuti tradisi ngerebek ini,” kata Bendesa Adat Desa Kukuh Marga I Gusti Ngurah Arta Wijaya.

Baca Juga: Astungkara, Ratusan Rumah Warga di Buleleng yang Tak Layak Huni Akhirnya Diperbaiki

Sebelum tradisi ngerebek dilakukan, krama melakukan mepeed gebogan yang diiringi patapakan barong ket dan barong landung yang tersebar di masing-masing banjar adat. Untuk tradisi ngerebek sendiri sebagai upacara pamungkas yang paling dinanti krama desa hingga menjadi tontonan wisatawan mancanegara.

Dimana dari 12 banjar yang krama istri membawa gebogan akan mengelilingi Pura Kahyangan Kedaton sebanyak tiga kali dari kanan ke kiri bersama warga banjar lainnya. 

“Kemudian tradisi ngerebek ini harus selesai diantara pertemuan siang dan malam atau sandikala. Mengapa demikian, masyarakat masih meyakini masyarakat bahwa nantinya diniskala juga akan melakukan penangkilan,” terangnya.

Baca Juga: Gigitan Anjing Rabies Tinggi, 52 Desa Kompak Bikin Aturan tapi Ada 23 Desa yang Belum: Ini Daftarnya!

Tradisi ngerebek secara bahasa sejatinya greget. Namun maknanya bagi masyarakat adalah rasa syukur dan sukacita karena tradisi terus bisa dilaksanakan oleh masyarakat. Dengan penuh syukur dan cinta kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa.

Yang menarik pula dari tradisi ngerebek krama desa yang melaksanakan sembahyang tidak boleh memakai kwangen dan dupa. Tidak boleh memasang penjor. Menyapu di halaman pura tak boleh pakai sapu lidi, melainkan dari ranting-ranting pohon yang dibuatkan seperti sapu.

Sampian harus terbuat dari daun pisang emas. Tanpa menggunakan jaja gina berwarna merah,” pungkasnya.***

Editor : M.Ridwan
#upacara #tabanan #DESA ADAT KUKUH #Ngerebeg #ritual #marga