Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Berkunjung ke Baturiti, Tabanan, Tempat Green House: Tanam Sayur Paprika ala Smart Farming Masih Menggiurkan

Juliadi Radar Bali • Senin, 5 Agustus 2024 | 04:30 WIB
BUDIDAYA SAYURAN: I Made Sandi alias Kadek Melon Petani Desa Bangli, Baturiti Tabanan yang melakukan budidaya sayuran paprika dengan pertanian green house berteknlogi smart farming.(juliadi/radar bali
BUDIDAYA SAYURAN: I Made Sandi alias Kadek Melon Petani Desa Bangli, Baturiti Tabanan yang melakukan budidaya sayuran paprika dengan pertanian green house berteknlogi smart farming.(juliadi/radar bali

Salah seorang petani di Banjar Dinas Munduk Andong, Desa Bangli Baturiti, Tabanan,  melakukan intensifikasi pertanian. I Made Sandi mengubah lahan pertanian terbuka menjadi green house, dengan menanam sayuran paprika dengan teknologi smart farming.

ADA berbacam jenis tanaman sayuran. Macam pokcay, sawi, daun prey, kol dan sayuran lainnya ditanam oleh I Made Sandi atau yang akrab disapa Kadek Melon pada lahan seluas setengah hektare. 

Lahan pertanian yang diberi nama Kadek Organik Farm itu menggunakan pertanian organik. Pertanian organik itu ternyata sudah dilakukan bertahun lamanya. 

Yang menarik lagi, kini Kadek Melon telah mengubah sebagian lahan pertanian terbuka menjadi pertanian green house. 

Green house sendiri cara pertanian modern yang biasanya dikembangkan pada negara-negara maju. Dimana pertanian ini dibangun dengan struktur bingkai yang dilapisi plastik untuk menutupi seluruh lapisan bangunan. 

Pada pertanian green house tersebut Kadek Melon menanam sayuran paprika yang dikembangkan teknologi smart farming. Smart farming ini segala proses pengolahan lahan, mulai dari pemupukan, penyiraman dan pemberian nutrisi dilakukan secara teknologi digital. 

Kadek Melon mengaku sebelum ia mengembangkan green house pada lahan pertanian miliknya. Sejatinya ia lebih awal menjalankan pertanian organik pada lahan seluas 50 are. Semua jenis sayuran yang ia tanam menggunakan budidaya organik. 

"Kalau pertanian organik ini sudah dimulai tahun 2012," ujar petani berusia 55 tahun itu ditemui Sabtu (3/8/2024). 

Ia menjelaskan ide awal bertani organik sebenarnya ingin mandiri, bagaimana tanpa harus beli pupuk sebagai petani di desa. Mulai membuat pupuk mandiri, pestisida nabati dan nutrisi yang bahan-bahan langsung di lokasi pertanian sendiri. 

"Intinya mandiri dan mau belajar. Karena bahan-bahan pupuk bisa dari dedaunan dan sampah sayuran yang ada di lokasi pertanian," ungkapnya. 

Bertahun-bertahun menjalankan pertanian organik tersebut, langkahnya pun berhasil. Kadek melon berhasil membuat pupuk organik padat dan cair dari bahan limbah sayuran dicampur dengan kotoran hewan. Begitu pula dengan pestisida nabati yang dibuat dari limbah sayuran organik. 

Meskipun telah berhasil melakukan pertanian organik pada tanaman sayuran, justru tidak membuatnya puas. Pria yang dinobatkan sebagai pemenang pertanian organik terbaik di Bali inipun lantas mengembangkan pertanian green house dengan menggunakan teknologi smart farming. 

 

Menurut Kadek pertanian gren house sendiri ia mulai kembangkan September tahun 2023 lalu. Pada lahan seluas 2,5 are itu diubah menjadi pertanian green house. 

 

"Kebetulan saya dapat bantuan alat teknologi dari pemerintah pusat, sehingga saya ubah lahan terbuka jadi green house," akunya.   

 

Kadek Melon mengaku inovasi mengembangkan green house sendiri dengan teknologi smart farming dengan pertimbangan mengikuti kemajuan teknologi pertanian saat ini. 

Ia sebagai petani mau tidak mau harus melakukan intensifikasi pertanian. Karena memperhitungkan panen jangka panjang dan kualitas tanaman sayuran sehat yang dihasilnya mampu diserap oleh akomodasi pariwisata di Bali


Ia melanjutkan membuat pertanian green house memang membutuhkan biaya sangat besar, namun hanya sekali mengeluarkan biaya. Sisa baru menikmati hasil. Apalagi menggunakan teknologi pertanian smart farming. 

Sisi manfaatnya pertanian green house smart farming ini adalah penggunaan pupuk menjadi terukur. Penyiraman waktu tanaman lebih tepat tidak ada air tercecer atau  berlebihan. Termasuk pemberian nutrisi lebih efesien dan sangat irit.

Selain itu umur atau jangka waktu tanaman lebih panjang dan bisa berkali-kali dilakukan panen. Kemudian smart farming data pertumbuhan tanaman lebih terukur karena berdasarkan sensor yang ada di lahan pertanian green house yang mampu meng-cover identifikasi lahan, cuaca, identifikasi tanaman, kondisi media tanam, pupuk, benih, pestisida, panen dan jumlah produksi hasil. 

"Smart farming lebih kepada efesien bertani. Karena semua serba digital otomatis, bahkan saya bisa memantau dan merawat pertumbuhan tanaman melalui handphone dengan palikasi khusus. Kontrol tanaman bisa jarak jauh," jelasnya. 

Kadek menambahkan untuk tanaman sayuran yang ditanam pada pertanian green house ia lebih memilih menanam sayuran paprika. Karena apa, kebutuhan sayuran paprika organik sangat tinggi di Bali. Dengan jenis sayuran paprika yang ditanam mulai dari warga hijau, merah dan kuning. Dengan 600 bibit paprika yang ia tanam. 

Untuk harganya pun lumayan bagus. Jenis paprika hijau misalnya per kilogram mencapai Rp 50 ribu, paprika kuning Rp 70 ribu dan paprika merah Rp 100 ribu. 

Sekarang ini paprika yang dibudidaya dengan pertanian green house smart farming  bisa panen dua kali sehari. Bahkan panen tergantung dari permintaan hotel dan restoran yang sudah bekerjasama dengannya. 

Omset setiap bulannya sekitar Rp 5 jutaan dari hasil menanam paprika menggunakan green house teknologi smart farming," pungkasnya. [*]

 

Editor : Hari Puspita
#pertanian organik #tabanan #green house #Smart Farming #Paprika