JAKARTA, radarbali.jawapos.com - Glaukoma adalah penyakit saraf mata progresif yang sering tanpa gejala dan menjadi penyebab kebutaan tertinggi kedua setelah katarak, dengan prevalensi di Indonesia mencapai 0,46% (4–5 per 1.000 penduduk).
Sekitar 80–90% kasus glaukoma tidak terdeteksi. Sementara lebih dari 3,6 juta orang di dunia telah mengalami kebutaan akibat glaukoma dan berpotensi meningkat menjadi 5,5 juta pada 2040 tanpa intervensi memadai.
Di Bali, jumlah penduduk usia lanjut yang mengalami kebutaan diperkirakan mencapai sekitar 18.016 orang, menunjukkan pentingnya peningkatan kesadaran dan deteksi dini gangguan penglihatan.
Dalam rangka Pekan Glaukoma Sedunia 2026, JEC BALI @ Denpasar menggelar rangkaian kegiatan edukasi, skrining pemeriksaan mata, serta seminar dan webinar kesehatan mata bagi masyarakat dan tenaga kesehatan.
Dalam rangka memperingati Pekan Glaukoma Sedunia (World Glaucoma Week) 2026 yang berlangsung pada 8–14 Maret 2026, JEC Group mengajak masyarakat untuk lebih waspada terhadap glaukoma.
Pekan Glaukoma Sedunia merupakan inisiatif global dari World Glaucoma Association yang diperingati setiap minggu kedua bulan Maret untuk meningkatkan kesadaran tentang pentingnya deteksi dini dan pencegahan kebutaan akibat glaukoma, dengan tema tahun ini “Uniting for a Glaucoma-Free World.”
Glaukoma merupakan penyakit saraf mata progresif yang merusak saraf optik secara perlahan yang salah satunya dapat diakibatkan oleh peningkatan tekanan di dalam bola mata.
Dalam kondisi normal, tekanan bola mata berada pada kisaran 10–21 mmHg. Namun ketika tekanan meningkat atau saraf optik menjadi lebih rentan, kerusakan dapat terjadi secara bertahap hingga menyebabkan penyempitan lapang pandang dan berujung pada kebutaan permanen.
Kondisi ini dapat dialami oleh siapa saja, tetapi lebih sering terjadi pada individu berusia di atas 40 tahun dan menjadi penyebab kebutaan tertinggi kedua setelah katarak.
Glaukoma sering berkembang tanpa gejala pada tahap awal sehingga kerap baru terdeteksi ketika kerusakan penglihatan sudah berat. Berbeda dengan katarak, kerusakan akibat glaukoma tidak dapat dipulihkan, meskipun sebenarnya dapat dicegah melalui deteksi dini.
Di negara berkembang, sekitar 80-90% kasus glaukoma tidak terdiagnosis, sementara menurut jurnal yang dipublikasikan di PubMed oleh Tham et al., jumlah penderita glaukoma di dunia diperkirakan mencapai sekitar 76 juta orang pada tahun 2020 dan akan terus meningkat menjadi sekitar 111,8 juta orang pada tahun 2040 seiring dengan pertumbuhan populasi dan meningkatnya angka harapan hidup. Di Indonesia, prevalensi glaukoma mencapai sekitar 0,46% atau 4–5 orang per 1.000 penduduk (Kementerian Kesehatan RI tahun 2023).
Prof. DR. Dr. Widya Artini Wiyogo, SpM(K), Ketua Glaukoma Service, JEC Group mengatakan, “Mayoritas kasus glaukoma tidak menunjukkan gejala sehingga sering baru terdeteksi saat pemeriksaan kesehatan.
Namun jika muncul keluhan seperti sakit kepala hebat, penglihatan mendadak kabur, mual, muntah, atau nyeri mata, masyarakat perlu segera memeriksakan diri. Karena itu, skrining mata secara berkala sangat penting untuk mendeteksi glaukoma lebih dini.”
Kondisi ini juga menjadi perhatian di Provinsi Bali, yang memiliki populasi lansia yang terus meningkat seiring dengan meningkatnya harapan hidup masyarakat.
Berdasarkan hasil survei Rapid Assessment of Avoidable Blindness (RAAB) yang dilakukan di Bali pada tahun 2017, prevalensi kebutaan pada penduduk usia 50 tahun ke atas diperkirakan sekitar 2%. Dengan jumlah penduduk usia lanjut tahun sekitar 1 juta orang, maka jumlah penduduk yang mengalami kebutaan di Bali diperkirakan mencapai sekitar 18.016 orang.
“Beberapa faktor dapat meningkatkan risiko glaukoma, seperti riwayat keluarga, diabetes melitus, penggunaan steroid jangka panjang, kelainan refraksi tinggi (miopia/hipermetropia), katarak, atau riwayat trauma mata. Namun, glaukoma tidak hanya menyerang usia lanjut. Pada bayi juga dapat terjadi glaukoma bawaan dengan angka sekitar 1 dari 10.000–20.000 kelahiran menurut American Academy of Ophthalmology (2025), sementara pada orang dewasa penyakit ini sering berkembang tanpa gejala hingga tahap lanjut,” imbuh Prof. DR. Dr. Widya Artini Wiyogo, SpM(K).
Selain itu, menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), sepanjang 2024 Bali menerima lebih dari 5,2 juta kunjungan wisatawan mancanegara dan lebih dari 9 juta perjalanan wisatawan nusantara.
Tingginya mobilitas ini turut meningkatkan kebutuhan layanan kesehatan, termasuk layanan kesehatan mata bagi masyarakat lokal maupun wisatawan.
Di saat yang sama, Bali juga tengah dikembangkan sebagai pusat wisata kesehatan melalui Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Sanur yang berfokus pada layanan kesehatan dan pariwisata medis.
Seiring meningkatnya aktivitas masyarakat dan wisatawan, kebutuhan terhadap layanan kesehatan berkualitas—termasuk deteksi dini penyakit mata seperti glaukoma yang kerap berkembang tanpa gejala—menjadi semakin penting.
Jenis-Jenis Glaukoma yang Perlu Diketahui
Glaukoma bukan satu jenis penyakit tunggal. Terdapat beberapa tipe yang memiliki karakteristik berbeda:
Glaukoma Primer Sudut Terbuka (Primary Open-Angle Glaucoma)Ini adalah jenis yang paling umum. Penyakit berkembang perlahan dan sering tanpa gejala. Penglihatan biasanya menyempit dari sisi samping secara bertahap sehingga sering tidak disadari hingga stadium lanjut.
Glaukoma Primer Sudut Tertutup (Angle-Closure Glaucoma)Jenis ini dapat terjadi secara mendadak dan menimbulkan gejala seperti nyeri mata hebat, mata merah, sakit kepala, mual, serta penglihatan kabur. Kondisi ini termasuk kegawatdaruratan medis yang memerlukan penanganan segera.
Glaukoma KongenitalTerjadi pada bayi atau anak-anak akibat kelainan bawaan pada sistem aliran cairan mata.
Glaukoma SekunderTerjadi akibat kondisi lain seperti cedera mata, penggunaan obat steroid jangka panjang, diabetes, atau penyakit mata tertentu.
Memahami jenis-jenis ini penting karena pendekatan pemeriksaan dan terapinya dapat berbeda pada setiap pasien. Sebagai pusat layanan kesehatan mata terintegrasi, JEC menempatkan penanganan glaukoma sebagai salah satu fokus utama layanan subspesialis dan rujukan nasional.
Deteksi Dini dan Penanganan Glaukoma untuk Mencegah Kebutaan Permanen
Dr. Luh Putu Intan Kartika Chandra Dewi, M.Biomed, SpM, Dokter Mata di JEC BALI @ Denpasar, menjelaskan bahwa kerusakan penglihatan akibat glaukoma bersifat permanen sehingga pencegahan melalui deteksi dini sangat penting. “Glaukoma sering disebut sebagai silent thief of sight karena kerusakan saraf optik terjadi secara perlahan tanpa gejala yang jelas. Banyak pasien baru datang ketika lapang pandangnya sudah menyempit. Dengan diagnosis yang tepat serta pemantauan yang teratur, perkembangan penyakit dapat dikendalikan sehingga kualitas penglihatan pasien tetap terjaga,” jelasnya.
“Diagnosis glaukoma dilakukan melalui beberapa pemeriksaan mata, antara lain pengukuran tekanan bola mata (tonometri), pemeriksaan struktur saraf optik menggunakan Optical Coherence Tomography (OCT), pemeriksaan lapang pandang (visual field test atau perimetri) untuk menilai penglihatan tepi, serta pemeriksaan sudut drainase mata (gonioskopi).
Kombinasi pemeriksaan ini membantu dokter mendeteksi glaukoma sejak dini, memantau perkembangan penyakit, serta menentukan penanganan yang tepat untuk mengontrol tekanan bola mata dan mencegah kerusakan saraf optik lebih lanjut.
Pemeriksaan dini sangat dianjurkan, terutama bagi individu dengan faktor risiko seperti riwayat keluarga glaukoma, usia di atas 40 tahun, serta penderita penyakit sistemik seperti diabetes dan hipertensi,” imbuh Dr. Luh Putu Intan Kartika Chandra Dewi, M.Biomed, SpM.
Pendekatan terapi glaukoma meliputi:
Terapi MedikamentosaPenggunaan obat tetes mata merupakan terapi awal yang paling umum untuk menurunkan tekanan bola mata dengan cara mengurangi produksi cairan mata atau meningkatkan aliran keluar cairan tersebut.
Pada kondisi tertentu, dokter juga dapat memberikan obat oral untuk membantu menurunkan tekanan bola mata secara lebih cepat, terutama pada kasus dengan tekanan mata yang sangat tinggi atau sebagai persiapan sebelum tindakan lanjutan.
Terapi LaserTerapi laser menjadi salah satu pilihan penanganan yang efektif dan minimal invasif. Salah satunya adalah Selective Laser Trabeculoplasty (SLT) yang membantu meningkatkan aliran keluar cairan mata melalui jaringan trabekular sehingga tekanan bola mata menurun.
Prosedur ini biasanya berlangsung sekitar 5–10 menit, tidak memerlukan sayatan, dan pasien umumnya dapat kembali beraktivitas setelah tindakan.
Selain itu, pada kasus glaukoma sudut tertutup, dokter dapat melakukan Laser Peripheral Iridotomy (LPI) untuk membuat jalur kecil pada iris guna memperlancar aliran cairan mata dan mencegah peningkatan tekanan bola mata secara mendadak.
Tindakan OperasiApabila tekanan bola mata tidak dapat dikontrol secara optimal dengan obat maupun terapi laser, tindakan operasi dapat dilakukan untuk membantu mengalirkan cairan mata dan menurunkan tekanan bola mata. Beberapa prosedur yang dapat dilakukan antara lain:
Trabeculectomy, yaitu operasi untuk membuat jalur baru bagi cairan mata agar dapat keluar dari bola mata sehingga tekanan menurun.
Glaucoma Drainage Device (tube implant), yaitu pemasangan alat kecil untuk membantu mengalirkan cairan mata pada kasus glaukoma yang lebih kompleks atau tidak responsif terhadap terapi sebelumnya.
Minimally Invasive Glaucoma Surgery (MIGS), teknik bedah modern dengan sayatan minimal yang bertujuan menurunkan tekanan bola mata dengan risiko komplikasi yang lebih rendah serta masa pemulihan yang lebih cepat.
Dalam beberapa kasus tertentu, operasi katarak juga dapat membantu memperbaiki struktur sudut bilik mata sehingga aliran cairan mata menjadi lebih lancar dan tekanan bola mata dapat menurun.
Edukasi dan Skrining Glaukoma di JEC BALI @ Denpasar
Berkaitan dengan ini, JEC BALI @ Denpasar juga mengadakan berbagai kegiatan edukasi dan pemeriksaan mata bagi masyarakat untuk meningkatkan kesadaran tentang pentingnya deteksi dini glaukoma, yaitu free glaucoma screening, yang mencakup pemeriksaan tekanan bola mata menggunakan alat non-contact tonometry serta pemeriksaan kesehatan mata melalui layanan EyeCheck secara gratis.
Melalui kegiatan ini, masyarakat diharapkan dapat mengetahui kondisi kesehatan mata mereka sejak dini dan memperoleh edukasi mengenai pentingnya pemeriksaan mata secara berkala untuk mencegah kerusakan penglihatan akibat glaukoma.
Program skrining gratis ini merupakan bagian dari upaya JEC BALI @ Denpasar dalam meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap deteksi dini glaukoma serta memperluas akses layanan kesehatan mata bagi masyarakat di Bali.
“Melalui kegiatan ini, JEC BALI @ Denpasar berharap semakin banyak masyarakat memahami bahwa glaukoma sering berkembang tanpa gejala pada tahap awal, sehingga pemeriksaan mata secara rutin sangat penting untuk mencegah kerusakan penglihatan permanen,” tutup Dr. Luh Putu Intan Kartika Chandra Dewi, M.Biomed, SpM.
JEC Group sudah lebih dari 42 tahun telah menjangkau masyarakat Indonesia untuk memudahkan akses dan mendekatkan layanan kesehatan mata yang berkualitas. Hal ini diiringi dengan hadirnya 15 cabang JEC Group di berbagai daerah di Jabodetabek dan luar Jabodetabek.
Sebagai bagian dari pengembangan layanan berstandar internasional, JEC juga tengah membangun JEC BALI @ Sanur di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Sanur. Fasilitas ini mengusung konsep “Blue Hospital”, yaitu rumah sakit dengan desain yang mendukung proses penyembuhan, penggunaan teknologi medis modern, serta sistem bangunan yang efisien dan berkelanjutan. Kehadiran fasilitas ini diharapkan memperkuat ekosistem layanan kesehatan mata sekaligus mendukung pengembangan wisata kesehatan di Indonesia.***
Editor : M.Ridwan