SUASANA khusyuk, serius, di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Bali. Puluhan siswa dan siswi tampak duduk berjejer di depan perangkat laptopnya yang dilengkapi Tamiang Balinese Keyboard.
Mereka tampak mengetik aksara Bali dengan keyaboard tersebut di microsoft worldnya. Tamiang Balinese Keyboard adalah seperangkat alat bantu komputer yang digunakan untuk mempermudah membuat dan menuliskan dokumen yang berbasis aksara Bali secara digital, sehingga hasil tulisannya akan dengan mudah dibagikan melalui media digital seperti Internet dan media sosial. Logo Tamiang ini terdiri atas tiga warna yaitu merah, hitam, dan putih (tridatu).
Tamiang dalam Bahasa Bali ini memiliki arti tameng atau perisai (shield). Logo Tamiang ini digunakan untuk membranding produk-produk digital yang dihasilkan oleh tim peneliti yang berhubungan dengan pelestarian budaya, khususnya budaya Bali. Namun untuk nyurat aksara tradisional, ada juga siswa yang nyurat menggunakan lontar.
I Wayan Suarmaja selaku Koordinator Provinsi Penyuluh Bahasa Bali menerangkan bahwa serangkaian Bulan Bahasa Bali dilaksanakan festival mengetik aksara Bali. Sekarang dunia serba digitital sehingga nyurat aksara Bali bisa ditunjukkan lewat Tamiang Balinese Keyboard dengan font aksara Bali.
“Hari ini ada kegiatan festival mengetik aksara Bali. Jadi kalau mengetik aksara Bali dengan Tamiang ini anak-anak harus mengetahui pasang akasara, kalau anak-anak tidak mengetaui pasang akasara jadi mereka tidak bisa mengetik atau akasara mereka ketik tidak akan terbaca. Harus mengetahui pasang akasara baru bisa mengetik sehingga apa yang mereka ketik terbaca,” terang Suarmaja saat ditemui disela-sela kegiatan Bulan Bahasa Bali, Rabu (1/2/2023).
Menrutnya semua aksara Bali itu aksaranya bersuara. Sehingga anak-anak untuk menulis kata-kata menggunakan akasara Bali dengan Keyboard Tamiang ini harus memahami pasang aksara. Karena kemungkinan nanti aksara diketik tidak berbunyi atau bunyinya salah.
“Keyboard ini bisa digunakan di office dan di Google talk, akasaranya atau font menggunakan font yang sudah unicorn, artinya prangkat sudah mendukung perangkat digital lainnya. Baik handphone, laptop dan PC,” jelasnya.
Tamiang Balinese Keyboard sejatinya sudah di-launching setahun lalu oleh Gubernur Bali. Keyboard ini baru digunakan di kantor pendidikan atua satuan pendidikan.
Selain itu respons anak-anak juga sangat antusias menggunkana keyabord Tamiang tersebut. Karena memudahkan mereka untuk menulis atau pun mengetik aksara Bali. “Kalau kami tanya kepada anak-anak, memang mereka sudah paham pasang akhasara baru paham menggunakan keyboard tamiang ini, kalau tidak paham ketikan kemungkinan salah,” bebernya.
Lebih lanjut, untuk mendukung keyboard tersebut Penyuluh Bahasa Bali di Kabupaten dan Kota juga sudah membuat 9 font aksara Bali dengan format unicord yang sudah bisa digunakan di komputer mau pun laptop.
“Keyboard ini menurut pandangan kami bagus untuk di satuan pendidikan untuk anak-anak belajar pasang aksara karena anak-anak bisa belajar dari dasar, “ bebernya.
Sementara Gubernur Bali, I Wayan Koster dalam pembukaan Bulan Bahasa Bali mengatakan mestinya di Bali patut bersyukur, karena leluhur sebelumnya mampu menciptakan dan mewariskan asara, bahasa dan sastra Bali tersebut. “Karena leluhur kita terdahulu mampu mewariskan sampai saat ini dan bisa kita gunakan. Bali memiliki peradaban yang kuat dari ketiga unsur ini,” jelasnya.
Ia juga memaparkan bahwa leluhur di Bali sebelumnya menciptakan aksara belum ada zaman kuliah, maupun sekolah. Namun mampu membuat aksara yang sampai saat ini belum ada penggantinya atau alternatif aksara baru.
“Jangankan kuliah, sekolah SD pun belum, tetapi leluhur kita bisa bikin aksara. Kita sekolah tinggi-tinggi, gaya lagi. Coba pikir, bisa gak buat aksara, kan sampai sekarang belum ada ahli apapun itu bisa buat aksara menjadi alternatif aksara baru,” imbuh Koster.
Selain itu, ia memandang bahwa leluhur terdahulu jauh lebih cerdas dan visioner. “Luar biasa warisan leluhur kita, dan kita wajib melindungi dan menggunakannya. Kalau melindungi dan menggunakannya tidak bisa, itu kebangetan dosa kita kepada leluhur,” beber Gubernur asal Buleleng ini.
Aksara Bali merupakan warisan yang mulia dan suci. Kosa kata bahasa Bali lebih lengkap dan lebih banyak daripada bahasa lain. Selain itu Gubernur Koster menambahkan bahwa ia sering mendapatkan surat dari kedutaan luar negeri.
Salah satunya adalah Jepang, dimana surat yang dikirimkan menggunakan bahasa Jepang. Dengan demikian ia harus mencari penerjemah bahasa Jepang.
“Ke depan kita harus sama lah, kita kirim surat menggunakan Bahasa Bali. Supaya mereka mencari juga penerjemah bahasa Bali, kan menambah lapangan kerja juga itu untuk kita,” pungkasnya. [made dwija putra/radar bali] Editor : Hari Puspita