STASIUN Geofisika Denpasar turut ambil bagian dalam pelaksanaan Indian Ocean Wave Exercise (IOWave) 2025, latihan kesiapsiagaan tsunami skala internasional yang diikuti oleh negara-negara di kawasan Samudra Hindia.
Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani menjelaskan kegiatan ini merupakan momentum untuk pengingat kolektif akan pentingnya kesiapsiagaan menghadapi ancaman tsunami. Adapun pelaksanaannya dipusatkan langsung dari ruang operasional Multi Hazard Early Warning System (MHEWS) BMKG untuk memastikan seluruh rantai peringatan dini tsunami berjalan prima dan responsif.
“Kegiatan ini mencerminkan tekad BMKG untuk memastikan bahwa keselamatan masyarakat adalah prioritas utama yang tidak dapat di tawar,” kata Faisal di Gedung MHEWS, Kantor Pusat BMKG, Jakarta, Rabu (5/11)
“Peran internasional ini telah membawa manfaat nyata. Bersama masyarakat, kita telah mampu membangun komunitas Tsunami Ready yang diakui UNESCO, yang juga ikut berlatih bersama kita hari ini. Kita akan terus membangun sinergi agar masyarakat di seluruh pesisir Indonesia semakin tangguh,” tutup Fathani, sebelum secara resmi membuka Latihan,” jelasnya.
Sementara itu Deputi Bidang Geofisika BMKG Nelly Florida Riama menyatakan latihan ini krusial untuk menguji sistem peringatan dini tsunami dari hulu hingga ke hilir. Musababnya, latihan ini tidak hanya menguji sistem, tetapi menjadi ajang pembelajaran bersama untuk memperkuat koordinasi, mengasah kecepatan respon, dan menilai efektivitas Standard Operating Procedures (SOP) di tingkat nasional maupun daerah.
“Sebagai TSP, BMKG bersama India dan Australia, bertugas mengirimkan Tsunami Warning Test Messages kepada 28 negara anggota IOTWMS di kawasan Samudra Hindia. Ini menunjukkan komitmen tinggi Indonesia dalam menjaga kesiapsiagaan, tidak hanya di wilayah nasional tetapi juga di kawasan,” ujar Nelly.
Di kesempatan yang sama, Direktur Gempabumi dan Tsunami BMKG, Daryono, menegaskan bahwa latihan IOWave25 merupakan langkah strategis untuk mewujudkan cita-cita besar InaTEWS (Indonesia Tsunami Early Warning System), yakni “zero victims” jika terjadi gempa dan tsunami.
“Peringatan dini tidak akan berarti tanpa adanya respon cepat dan tepat. Karena itu, BMKG terus mendorong terbentuknya Tsunami Ready Community di berbagai wilayah pesisir, agar masyarakat mampu melakukan evakuasi mandiri saat menerima peringatan,” ujar Daryono.
IOwave Tahun 2025 dilaksanakan dua kali. Yang pertama ditanggal 25 September 2025 dengan scenario Selat Sunda M9.0 dan untuk yang kedua akan berlangsung pada tanggal 05 Nopember 2025 dengan Skenario nasional yang dijalankan adalah gempa bumi magnitudo 9,2 di zona
Megathrust Utara Sumatera, yang berpotensi memicu gelombang tsunami ke berbagai wilayah di Indonesia, termasuk Bali. Dari hasil uji simulasi, wilayah Bali berada pada status Siaga Tsunami dengan potensi dampak di beberapa daerah pesisir seperti Klungkung, Nusa Penida, Kuta, Jembrana, Denpasar, dan Tabanan. Simulasi ini sekaligus menguji kesiapan jalur komunikasi, sistem peringatan dini, serta koordinasi lintas instansi di daerah.
Kepala Stasiun Geofisika Denpasar, Rully Oktavia Hermawan, menyampaikan bahwa kegiatan ini menjadi momentum penting untuk memastikan kesiapan daerah dalam merespons peringatan dini tsunami di wilayah Bali.
“Sebagai wilayah pariwisata dan pesisir, Bali memiliki tingkat kerentanan yang tinggi terhadap tsunami. Melalui latihan seperti IOWave, kami memastikan sistem peringatan dan jalur komunikasi di daerah berjalan cepat dan efektif,” ujarnya.
Rully menambahkan bahwa Stasiun Geofisika Denpasar juga berkoordinasi dengan BPBD Provinsi Bali, BPBD kabupaten/kota terdampak, TNI, POLRI, SAR serta komunitas sadar bencana untuk memastikan pesan peringatan tersampaikan hingga ke masyarakat.
Latihan IOWave 2025 diharapkan dapat meningkatkan kesiapsiagaan lintas sektor dan memperkuat budaya tangguh bencana di wilayah Bali dan Nusa Tenggara.*** (Rully Oktavia Hermawan, S.Kom, M.Kom, Kepala Stasiun Geofisika Denpasar)
Editor : M.Ridwan