TABANAN– Petani di Desa Jatiluwih, Kecamatan Penebel Tabanan sempat kesulitan memasarkan padi beras merah saat musim panen. Keluhan petani akhirnya mendapat perhatian dari Perusahaan Daerah Dharma Santika (PDDS) Kabupaten Tabanan.
PDDS Tabanan memastikan akan menyerap hasil panen padi beras merah petani Jatiluwih. Dirut PDDS Tabanan Kompyang Gede Pasek Wedha mengatakan, pihaknya memang memiliki program menyerap beras merah sebagai komoditas yang dipasarkan ke mitra kerjanya.
“Khusus beras merah memang volume yang terserap tidaklah banyak. Volume serapan per bulannya rata-rata 200 kilogram sampai 400 kilogram,” tuturnya, Kamis (15/6).
Mengenai kesulitan serapan padi beras merah yang terjadi saat panen di Jatiluwih, Kompyang mengatakan pihaknya akan menurunkan tim untuk melakukan survei dan negosiasi terkait kondisi penjualan hasil panen petani beras merah di Jatiluwih.
"Kalau harganya cocok, kami akan beli (gabahnya) untuk disimpan. Karena kebutuhan beras merah dari rekanan kami juga rutin. Kami juga sudah kerja sama dengan salah satu toko modern dan beberapa hotel," sebutnya.
Kompyang menambahkan selama ini pihaknya mengambil beras merah dari BUMDes. Tidak ke petani secara langsung. "Kami ambilnya beras. Petaninya yang menyosoh (selip) gabahnya sendiri. Terus dibawa ke BUMDes. Kami ambilnya di BUMDes," jelasnya.
Adanya keluhan petani sekarang ini, Kompyang menyebut yang pasti pihaknya segera mencarikan solusi mengambil dalam bentuk gabah. Ini untuk menutupi permintaan sewaktu-waktu atas beras merah dari rekanan Perumda. "Padi beras merah itu hanya panen setahun sekali. Apalagi beras merah semakin lama semakin bagus," tandasnya.
Seperti diberitakan sebelumnya, petani di Jatiluwih setempat kesulitan memasarkan hasil padi beras merah pada bulan Juni ini di tengah kondisi musim panen raya.
Hal itulah diungkapkan oleh Petani Jatiluwih Ketut Nurata, 52, yang juga sebagai pengurus subak tempek Gunung Sari di Subak Jatiluwih.
Nurata menyebut hasil panen padi beras merah kali ini cukup bagus dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya.
Dari luas lahan miliknya sekitar 30 are mampu menghasilkan padi beras merah organik sekitar 1,5 ton. Sedangkan tahun 2022 lalu hasilnya hanya dibawah 1 ton. Itu disebabkan oleh hama tikus yang menyerang tanaman padi miliknya.
Kendati hasil panen padi beras merah melimpah saat ini, namun dirinya bersama dengan petani lainnya susah untuk memasarkan hasil padi beras merah. “Jadi agak susah untuk pemasaran padi. Kalau dulu ada saja dari pembeli yang mencari padi beras merah. Sekarang memang susah,” ungkap Nurata ditemui saat menjemur padi beras merah, Minggu lalu (11/6).
Permintaan padi beras merah tidak seperti dulu sebelum wabah Covid-19. Lumayan tinggi permintaan hingga harganya. Tetapi usai Covid-19 ini malah sangat susah memasarkan. “Dulu sampai harga Rp 30 ribu per kilogramnya, sekarang padi beras Rp 20 per kilogram. Dan ada saja permintaan dari pelanggan hingga pengepul padi beras merah,” jelasnya.
Editor : Donny Tabelak