DENPASAR,radarbali.id - Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Pandjaitan turun ke TPST (Tempat Pengolahan Sampah Terpadu) Kesiman Kertalangu, kemarin (23/6). TPST yang diresmikan Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo tiga bulan lalu masih menyisakan permasalahan. Selain bau yang dikeluhkan masyarakat, juga hasil olahan sampah 450 ton per hari tidak mencapai target.
Oleh karenanya Luhut langsung menelpon bos perusahaan semen yang sudah membuat MoU (Memorandum of Understanding) dengan TPST Kesiman Kertalangu mempercepat proses kerja sama. Selain itu juga, ia meminta hasil sampah olahan juga dikirim ke PLTU Celukan Bawang. Pasalnya TPST ini adalah salah satu percontohan kerja sama Indonesia dengan World Bank Washington D.C.
Deputi Bidang Koordinasi Pengelolaan Lingkungan dan Kehutanan Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Kemenko Marves) Nani Hendiarti diwawancarai kemarin, mengatakan hasil capaian yang dihasilkan masih di bawah target, yakni hanya 170 sampai 180 ton per hari. Pernah di angka 280 ton per hari itu pun tidak berlanjut.
“Hari ini kunjungan, ada tim World Bank ingin melihat capaian yang bekerja sama salah satunya TPST Kesiman, melihat progress, progressnya ada belum sesuai yang ditargetkan karena perlu penyesuaian bisa Juli ini targetnya,” ujarnya.
Untuk mengejar target tersebut akan ditambah alat supaya produktivitasnya meningkat dan juga adanya keberlanjutannya. Hasil dari olahan sampah dengan teknologi (Refuse Derived Fuel (RDF) prosesnya , dipisahkan, dipilah, dicacah dan dikeringkan menghasilkan wood pellet, briket maggot dan lain-lain.
“Hambatan, kelihatannya teknis karena ini masih baru TPST yang baru kapasitas yang besar biasanya kapasitasnya 100 per hari, tapi ini 450 ton per hasil. Hasilnya RDF, ada briket dan yang packing itu , packing itu untuk pabrik semen untuk perusahaan semen SBI, sudah dikomunikasikan tinggal penandatanganan kontrak,” terangnya.
Katanya, Luhut mengejar pemilik Perusahaan SBI untuk segera penandatanganan kontrak. Minta dipercepat supaya barang bisa dikirim. Sebagian barang masih dikirim ke Solo membantu Waste to Energy (WTE) nanti diarahkan ke PLTU Celukan Bawang, karena rencananya batu bara diganti dengan hasil RDF. “Melakukan covering, berapa persen penggunaan batu bara diganti dengan RDF. Supaya cost transportasi tidak dibawa ke Jawa terlalu mahal bisa dipakai di Bali,” terangnya.
Disinggung mengenai bau sampah? Nani mengaku itu yang menjadi masalah belum mampu diselesaikan. Penyebab bau karena tumpukan sehingga mengeluarkan bau busuk. Ia meminta setiap sampah datang langsung cepat diproses.
“Harus diproses jangan ditumpuk kapasitas pemrosesan ditingkatkan kalau ada sampah segar langsung biasanya tidak bau. Jangan sampai ditumpuk kelamaan itu ditumpuk buat bau, kapasitas pengolahan yang harus ditingkatan makanya kalau masih kurang diminta tambahkan lagi,” terangnya.
Nani menegaskan kedatangan Luhut supaya pengelola TPST dapat menuntaskan permasalahan seperti timbulnya bau dan percepatan pencapaian produksi olahan sampah. Targetnya dicapai 450 ton per hari bisa dikejar.***
Editor : M.Ridwan