DENPASAR, radarbali.jawapos.com - Akhir-akhir ini istilah fatherless sering didengar. Istilah ini diartikan: anak-anak yang tumbuh tanpa kehadiran ayah. Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga menerbitkan surat mendorong keterlibatan aktif ayah.
Kemudian, Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (P3AP2KB) Kota Denpasar melanjutkan dengan mengimbau ayah mengantar anak sekolah di hari pertama.
Kepala Dinas P3AP2KB Kota Denpasar I Gusti Agung Sri Wetrawati mengatakan telah lakukan sosialisasi pentingnya keterlibatan aktif ayah untuk tumbuh kembang anak sejak dini. Hasil pengawasannya sudah banyak ayah mengantarkan anak sekolah.
”Mungkin gerakan ini secara umum kan bertujuan memperkuat peran ayah dalam pengasuhan. Kita ketahui rata-rata ibu berperan sejak dini, nganterin anak. Kadang-kadang nenek atau kakek,” jelasnya.
Orang tua di Denpasar dalam mengasuh anak menurut Wetra telah ada komitmen berbagi peran. Sebelum ada gerakan ayah yang diluncurkan pemerintah pusat memang lebih banyak mengantarkan anak ke sekolah adalah ayah.
”Ayahnya antar ke sekolah yang jemput ibunya kan berbagi peran,”imbuhnya.
Tak dapat ditampik, anak-anak lebih dekat dengan ibu. Namun, pandangan Wetra biasanya masing-masing keluarga telah berbagi tugas. Untuk mencegah adanya fatherless, Pemkot Denpasar memiliki program pra-nikah bagaimana belajar berbagi peran kalau sudah berkeluarga.”Mudah-mudahan khusus peran ayah, pasti peran ayah jalan,” jelasnya.
Disinggung mengenai dampak dari kurangnya keterlibatan peran ayah? Wetra menjelaskan, secara psikologi figur ayah sangat penting.
Misalkan saat mendidik atau mengajarkan anak. Akan timbul dampak negatif jika ada timpang dalam mendidik anak. Baik kekurangan peran ayah atau ibu.”Mana ayah masuk ibu masuk, keduanya anak dapat figur ayah dan ibu,” bebernya.
Pemerintah ingin mendekatkan peran dan figur ayah juga supaya tidak ada dominan.
Hasil pengamatannya juga Wetra, saat memberikan asesmen dengan korban kekerasan, ternyata mereka lebih terbuka dengan ibunya dibandingkan ayah.
”Pelayanan korban kekerasan, dari korban mengalami kekerasan lebih dekat ke ibu. Dari sisi saat curhat lebih dekat ke ibu. Zaman kita dulu sama ayah ada rasa hormatnya. Sekarang mendekatkan ayah tidak seperti dulu,” tandanya.***
Editor : M.Ridwan