RADAR BALI – Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mulai mematangkan persiapan pelaksanaan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU).
Selain membahas agenda besar organisasi, PBNU juga tengah bersiap menyambut peringatan Hari Lahir (Harlah) 1 Abad NU versi Masehi yang direncanakan berlangsung meriah di Jakarta.
Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) mengonfirmasi bahwa pembahasan mengenai muktamar telah memasuki tahap awal. Fokus utama saat ini adalah penguatan soliditas organisasi dan penyatuan pandangan seluruh unsur NU sebagai bagian dari proses islah.
Meski waktu dan lokasi pasti belum ditetapkan, Gus Yahya mengungkapkan bahwa sejumlah daerah dan pesantren besar telah menyatakan kesiapannya untuk menjadi tuan rumah.
"Peminatnya cukup banyak, mulai dari Kalimantan Timur, Nusa Tenggara Barat, Sumatera Barat, hingga Jawa Timur. Bahkan pesantren besar seperti Lirboyo dan Ploso juga berharap dapat menjadi tempat pelaksanaan muktamar," ujar Gus Yahya seperti dikutip NU Online.
Terkait wacana percepatan muktamar, Gus Yahya menegaskan bahwa segala keputusan harus diambil melalui mekanisme musyawarah untuk menghindari perbedaan pandangan baru.
Hal ini sejalan dengan hasil pertemuan islah di Pondok Pesantren Lirboyo pada 25 Desember 2025 lalu, yang dihadiri oleh Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar, jajaran Syuriah, Mustasyar, dan Ketua Umum PBNU.
Juru Bicara Pondok Pesantren Lirboyo, KH Abdul Mu’id Shohib, menambahkan bahwa pertemuan tersebut telah menyepakati pelaksanaan Muktamar ke-35 NU sesegera mungkin demi konsolidasi organisasi.
Harlah 1 Abad NU Versi Masehi di GBK
Bersamaan dengan persiapan muktamar, PBNU secara resmi meluncurkan logo Harlah 1 Abad NU versi Masehi dengan tema "Mengawal Indonesia Merdeka, Menuju Peradaban Mulia".
Puncak peringatan 100 tahun NU menurut kalender Masehi ini rencananya akan digelar di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SU GBK), Jakarta, pada 31 Januari 2026. Pemilihan tanggal ini merujuk pada berdirinya NU pada 16 Rajab 1344 H yang bertepatan dengan 31 Januari 1926.
"Kita akan menyelenggarakan selamatan yang insyaallah cukup besar di Gelora Bung Karno," tutur Gus Yahya.
Logo yang diluncurkan memiliki makna mendalam mengenai perjalanan bangsa dan organisasi:
Angka 100: Melambangkan satu abad perjalanan Indonesia yang matang dan teguh.
Angka 1 berwarna Hijau: Simbol fondasi awal kemerdekaan yang berakar pada nilai moral, spiritualitas, dan harapan.
Dua Angka 0 berwarna Emas: Melambangkan kejayaan, kemuliaan, dan cita-cita menjadi bangsa yang unggul di tingkat global.
Bentuk Lingkaran: Menggambarkan kesinambungan, persatuan, dan kekokohan dalam merajut masa lalu hingga masa depan.
Muktamar ke-35 dan Harlah 1 Abad Masehi ini diharapkan menjadi momentum strategis bagi Nahdlatul Ulama untuk memperkuat persatuan di tengah dinamika internal yang beragam serta terus berkontribusi bagi peradaban dunia.***
Editor : Ibnu Yunianto