Banjir lumpur menutupi akses Jalan AMD di kawasan tersebut. Dampaknya kendaraan tak bisa melintas. Karena ketebalan lumpur mencapai betis orang dewasa. Tak hanya itu lumpur juga menimbun halaman rumah Komang Budiarta, warga setempat.
Lumpur diduga berasal dari proyek shortcut titik 8. Material tanah bercampur batu dibuang ke kebun-kebun warga. Diperkirakan ketinggian material yang ditimbun ke kebun warga telah mencapai ketinggian 6 meter. Dampaknya saat hujan datang, lumpur akan mengalir ke arah hilir, lalu meluber menutupi jalan, halaman rumah warga, hingga perkebunan warga lainnya.
Perbekel Gitgit Putu Arcana mengatakan, kondisi yang terjadi pada Selasa lalu terbilang parah. Hujan mengguyur kawasan hulu selama dua jam. Air bercampur lumpur, rupanya tak mampu melewati gorong-gorong yang disiapkan. Alhasil lumpur menutupi jalan raya dan memutus akses jalan.
“Jalan tertimbun lagi, rumah yang di bawah itu juga kemasukan lumpur. Hampir setiap kejadian, rumah warga kami yang di bawah itu (rumah milik Komang Budiarta, Red) selalu jadi korban,” kata Arcana.
Ia menyatakan telah berkoordinasi dengan pelaksana proyek shortcut. Pagi tadi, pelaksana proyek telah menurunkan alat berat ke lokasi untuk membuka akses jalan.
“Pagi tadi saya sudah ke lokasi, alat berat mereka sudah kerja. Kendaraan roda empat sudah bisa lewat. Cuma kan ini hampir setiap hari hujan. Kalau hujan lebat di atas satu jam, pasti kejadian lagi. Kami hara pada solusi permanen,” imbuhnya.
Ia mengusulkan agar pelaksana proyek menambah gorong-gorong di lokasi tersebut. Setidaknya ada empat titik jalur pangkungan yang harus dibuatkan gorong-gorong. Sebanyak tiga titik diantaranya relatif aman karena terdapat dua gorong-gorong.
“Sisa satu titik ini saja yang hanya satu gorong-gorong. Kami sudah usulkan ke pelaksana proyek. Mereka sih belum menyanggupi, bahasanya mau verifikasi dulu. Kalau diabaikan, ya kami akan ngotot saja dibuatkan. Minimal 2 gorong-gorong lah dibuatkan di sana, kalau perlu 4 gorong-gorong, supaya tidak kejadian terus warga kami terdampak banjir lumpur,” tukasnya. [eka prasetya/radar bali]
Editor : Hari Puspita