Rupanya pihak rumah sakit memiliki alasan tersendiri. Salah satunya terkait kenyamanan pasien yang dalam perawatan. Wadir Pelayanan RSUD Sanjiwani Gianyar, Dr Anak Agung Oka Beratha mengatakan, bahwa memang pada dasarnya secara psikologis perlu ditunggui oleh keluarganya. Namun jumlah keluarga penunggu pasien dibatasi kuotanya.
“Pasien secara psikologis perlu ditungguin salah satu keluarga. Di ruangan cukup satu penunggu agar tidak terlalu sesak,” ungkapnya. Dijelaskannya bahwa sebenarnya hal itu bisa disiasati.
Caranya menunggu secara bergantian. Dan keluarga lainnya bisa menunggu di lokasi yang memang telah disediakan pihak rumah sakit.
“Ruangan istirahat penunggu ada di depan ruangan perawatan dekat lift. Berupa ruang tunggu bersama,” ungkapnya. Dia menegaskan bahwa untuk kenyamanan pasien, jumlah penunggu pasien memang sepatutnya dibatasi. “Yang lain di ruang tunggu. Yang di kamar hanya satu orang,” tambahnya.
Sementara itu, di RSUD Klungkung memiliki kapasitas sebanyak 233 tempat tidur (TT). Dari jumlah tersebut, sekitar 30 persennya atau 70 TT diperuntukkan untuk pasien Kelas III.
Kasubag Humas RSUD Klungkung, I Gusti Putu Widiyasa, menyatakan pasien hanya boleh ditunggu oleh satu anggota keluarga. Keberadaan penjaga pasien penting adanya untuk keperluan pemantauan infus, pelaporan kondisi pasien, dan membantu aktivitas pasien seperti mengelap, serta memberi makan. “Semua pasien dijagai oleh satu orang penunggu boleh lebih jika memang pasien yang memerlukan penanganan lebih lanjut,” katanya.
Menurutnya, belum memungkinkan bagi RSUD Klungkung mengambil alih penjagaan yang bersifat terus menerus. Salah satu penyebabnya karena jumlah perawat yang tidak memungkinkan untuk melakukan hal tersebut. “Kami tidak melakukannya namun kami tetap akan melakukan pemantauan secara rutin ke pasien sesuai dengan SOP yang ada. Khususnya dalam penggantian infus, petugas sudah mencatat waktu pemberian dan kapan harus penggantian, maka petugas akan melakukan pemantauan sebelum waktu habis,” terangnya. [marsellus pampur/dewa ayu pitri arisanti/dra] Editor : Hari Puspita