Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Sisi Lain Penganugerahan Pahlawan Nasional Ida Dewa Agung Jambe (1):Diteliti Sejak 2009, Bukti dari Belanda

Maulana Sandijaya • Jumat, 17 November 2023 | 01:05 WIB
PAHLAWAN NASIONAL : Ida Dewa Agung Jambe. (foto: repro : dewa ayu pitri arisanti/radar bali)
PAHLAWAN NASIONAL : Ida Dewa Agung Jambe. (foto: repro : dewa ayu pitri arisanti/radar bali)

Banyak sisi lain di balik penganugerahan gelar pahlawan nasional kepada Ida Dewa Agung Jambe yang belum diketahui publik. Jurnalis Jawa Pos Radar Bali yang bertugas di Klungkung Dewa Ayu Pitri Arisanti melakukan wawancara mendalam dengan Ida Dalem Semara Putra selaku ahli waris (keponakan) Agung Jambe. Sementara Ni Kadek Novi Febriani, jurnalis koran ini yang bertugas di Denpasar melakukan wawancara dengan Prof AA Bagus Wirawan, sejarawan dan guru besar Universitas Udayana (Unud) yang meneliti tentang Agung Jambe sejak 2009.

PENGANUGERAHAN gelar pahlawan nasional kepada Ida Dewa Agung Jambe oleh Presiden Joko Widodo di Istana Negara pada 10 November 2023 menambah panjang daftar pahlawan nasional asal Pulau Dewata.

Pahlawan nasional asal Bali sebelumnya ada I Gusti Ketut Jelantik, I Gusti Ngurah Rai, Untung Surapati, I Gusti Ngurah Made Agung, I Gusti Ketut Pudja, dan Ida Anak Agung Gde Agung.

Gelar pahlawan nasional Agung Jambe disambut suka cita masyarakat Klungkung. Sehari setelah gelar pahlawan nasional diumumkan, ribuan warga Klungkung dari berbagai lapisan Sabtu tumpah ruah memadati jalan di sepanjang Simpang Lima hingga Catus Pata Klungkung.

Mereka bersiap menyambut kedatangan sertifikat dan plakat penganugerahan gelar pahlawan nasional Ida Dewa Agung Jambe.

Bukti sahih aksi heroik Agung Jambe termuat dalam berita surat kabar Soerabaijasch Handelsblad (koran perdagangan Surabaya). Koran itu memuat berita tentang peristiwa Puputan Klungkung.

Surat kabar ini sudah ada sejak 1853 dengan nama De Oostpost (surat kabar dari timur), kemudian berganti nama menjadi Soerabaijasch Handelsblad pada 1865. Koran berbahasa Belanda itu kini disimpan di Museum Semarajaya, Klungkung.

Pada Selasa (14/11) pukul 11.00 atau tiga hari setelah pengarakan itu, wartawan koran ini diterima Penglingsir Puri Agung Klungkung, Ida Dalem Semara Putra selaku ahli waris Raja Klungkung tersebut. “Yang mau wawancara, ya. Ayo silakan, silakan,” ujar Ida Dalem dengan ramah di Puri Agung Klungkung.

DISAMBUT SUKA CITA MASYARAKAT KLUNGKUNG : Plakat Ida Dalem Semara Putra sebagai Pahlawan Nasional .(foto: dewa ayu pitri arisanti/radar bali)
DISAMBUT SUKA CITA MASYARAKAT KLUNGKUNG : Plakat Ida Dalem Semara Putra sebagai Pahlawan Nasional .(foto: dewa ayu pitri arisanti/radar bali)

Jika ditarik ke belakang secara genealogi atau garis keturunan, Ida Dalem adalah keponakan dari Agung Jambe. Ida Dalem menuturkan, informasi penganugerahan Agung Jambe sebagai pahlawan nasional didapatkan dari Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Disos P3A Klungkung). Pihak Dinsos P3A menghubunginya via telepon pada 7 November.

Baca Juga: Babak Baru! Usulan Ida Dewa Agung Jambe jadi Pahlawan masuk Kemensos

Saat menerima informasi tersebut, dia merasa sangat bahagia. Tetapi di sisi lain, dia dibuat panik karena harus mempersiapkan segala kebutuhan saat menerima penganugerahan dalam waktu yang singkat. “Kami harus menyiapkan pakaian dengan waktu yang singkat,” terangnya.

Menurut Ida Dalem, pemenuhan persyaratan mengusulkan Agung Jambe untuk mendapat gelar pahlawan nasional terbilang tanpa kendala. Hanya butuh waktu satu tahun dari 2019 untuk memenuhi semua persyaratan yang ditetapkan.

“Dari pihak puri hanya menyiapkan foto dan kisah tentang Ida Dewa Agung Jambe yang memang sudah banyak dibukukan. Kami juga punya tokoh yang mendalami tentang sejarah zaman kerajaan dulu,” katanya.

Meski kisah Agung Jambe sudah ada yang telah dibukukan, namun menurutnya tidak banyak yang menceritakan sosok Raja Klungkung itu secara rinci. Apalagi Agung Jambe tidak lama menduduki tahta sebagai raja lantaran gugur di medan perang. Agung Jambe hanya empat tahun berkuasa sebagai Raja Klungkung.

Bahkan menurutnya titik pasti lokasi gugurnya Agung Jambe saat peperangan tidak ada yang tahu pasti. “Apakah saat keluar dari pemedal agung langsung ditembak, atau sempat ke halaman hingga monumen saat ini, itu yang belum diketahui pasti titiknya,” bebernya.

Agung Jambe berani puputan melawan Belanda, menurutnya karena saat itu raja diminta menyerah tanpa syarat. Hal itu dianggap menjatuhkan harga diri raja saat itu. “Nilai-nilai perjuangan beliau akan kami teruskan,” jelas Ida Dalem.

Setelah wafatnya Agung Jambe beserta istri dan putra mahkota dalam peperangan, pemerintahan akhirnya dilanjutkan oleh anak dari saudara Agung Jambe atau keponakan yang dulunya pernah diasingkan ke wilayah Lombok, yakni Dewa Agung Oka Geg atau ayah kandung Ida Dalem.

Lebih lanjut mengenai plakat dan sertifikat gelar pahlawan nasional, dikatakannya masih disimpan di kediamannya. Akan ada koordinasi lebih lanjut dengan Pemkab Klungkung terkait rencananya untuk menyimpan benda tersebut di Museum Semarajaya.

“Karena kan harus ada tempat sehingga perlu koordinasi lebih lanjut. Kalau soal keamanan museum, saya rasa aman untuk menempatkan plakat dan sertifikat,” tandasnya. [dewa ayu pitri arisanti/editor : maulana sandijaya]

Editor : Hari Puspita
#pahlawan nasional #Ida Dewa Agung Jambe #klungkung