Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Melihat Tradisi Ngigel Desa di Desa Adat Nagasepaha, Digelar Tiap Dua Tahun, Ujian Mental Bagi Krama

Eka Prasetya • Minggu, 1 Oktober 2023 | 06:05 WIB
Salah seorang krama melinggih yang melakukan ngigel desa di Pura Desa Adat Nagasepaha.
Salah seorang krama melinggih yang melakukan ngigel desa di Pura Desa Adat Nagasepaha.

Desa Adat Nagasepaha punya tradisi unik. Yakni tradisi ngigel desa. Tradisi ini hanya dilakukan dua tahun sekali. Seperti apa?

EKA PRASETYA, Buleleng

RATUSAN krama berdesak-desakan di Madya Mandala Pura Desa Adat Nagasepaha, Kecamatan Buleleng. Mereka menanti krama lanang alias pria yang hendak menari.

Tepat pukul 16.00 sore, satu persatu krama yang menari, keluar dari utama mandala pura. Mereka melakukan berbagai gerakan. Ada yang menari dengan serius. Ada pula yang menari sekadarnya dengan gaya yang lucu, sehingga memancing gelak tawa krama yang menonton.

Panitia karya sebenarnya hanya memberikan waktu lima menit bagi krama desa negak untuk menari. Namun bagi pria yang menari, lima menit terasa cukup lama. Sebagai tanda sudah dilaksanakannya sesolahan, para penari diwajibkan menyentuh api dari damar (lampu minyak) yang terletak di tengah-tengah madya mandala.

Sabtu siang (30/9) di Pura Desa Adat Nagasepaha, tengah digelar tradisi ngigel desa. Tradisi ini merupakan rangkaian acara pujawali di Pura Kahyangan Tiga Desa Adat Nagasepaha. Piodalan sendiri dilakukan tiap dua tahun sekali.

Puncak pujawali sendiri jatuh pada Jumat (29/9) lalu, bertepatan dengan purnama kapat yang jatuh pada rahina sukra pon tambir. Tradisi ngigel desa dilakukan sehari serta purnama kapat. Tahun ini, jatuh pada Sabtu (30/9) yang bertepatan dengan rahina saniscara wage tambir. Tradisi ini juga paling dinanti oleh krama setelah  rangkaian piodalan yang cukup panjang.

Penglisir Desa Adat Nagasepaha, Jro Wayan Awina mengatakan, sesolahan berupa ngigel desa merupakan kewajiban bagi krama negak. Setelah itu mereka punya hak duduk di bale panjang pura.

“Wajib hukumnya bagi krama desa untuk duduk di bale panjang. Ini juga harus diteruskan oleh generasi yang lebih muda, supaya kedepan tetap ajeg dan Lestari,” ujarnya.

Kelian Desa Adat Nagasepaha, Jro Mangku Made Darsana mengatakan, ngigel desa dilaksanakan sehari sebelum penglebar karya pujawali. Tradisi itu sudah dilakukan secara turun temurun sebagai wujud syukur atas lancarnya pelaksanaan karya pujawali.

Rangkaian ngigel desa diawali dengan mendak para penari di bale banjar. Mereka diiringi dengan tabuh baleganjur. Setelah itu mereka akan diantar menuju bale panjang di Pura Desa. Setelah duduk di bale panjang, mereka tidak boleh kemana-mana lagi. Semua kebutuhannya akan dilayani krama desa.

“Ini wujud syukur kami sebagai krama desa atas pelaksanaan pujawali yang bisa berjalan dengan lancar. Sehingga krama desa negak diwajibkan untuk ngaturang sesolahan,” jelasnya.

Sementara itu salah seorang krama desa negak, Made Alit Budiarta mengungkapkan, ngigel desa merupakan hal yang sangat menguji mental. Terutama bagi dirinya yang baru ditunjuk sebagai krama desa negak.

Ia mengaku telah menyiapkan diri sejak jauh hari. Mulai dari menyiapkan pakaian, keris, bahkan dia berlatih menari agar gerakannya tidak terlihat kaku. “Bagi saya jelas menantang. Sampai harus persiapan dan Latihan menari,” ujarnya.

Meski sempat malu-malu ia akhirnya bisa menuntaskan tugasnya ngaturang sesolahan secara paripurna. Sehingga bisa melestarikan tradisi dan dresta yang telah dilaksanakan secara turun temurun. (*)

Editor : Donny Tabelak
#Piodalan #desa adat #pura desa #krama #tradisi unik #pujawali