Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Angka Bunuh Diri di Bali Paling Tinggi, Penyebabnya Masyaraka Tak Punya Kebiasaan Deep Talk (1)

Marsellus Nabunome Pampur • Selasa, 29 April 2025 | 15:04 WIB

 

UNGKAP ULAH PATI: Nena Mawar Sari S. Psi.,Psikolog Cht- Psikolog Klinis dan Hipnoterapis RSUD wangaya.
UNGKAP ULAH PATI: Nena Mawar Sari S. Psi.,Psikolog Cht- Psikolog Klinis dan Hipnoterapis RSUD wangaya.

Bali menempati angka kasus bunuh diri paling tinggi se Indonesia di tahun 2024 lalu. Beberapa waktu belakangan, deretan kasus bunuh diri terus berjatuhan. Ada apa?

 

 SALAH  satu yang masih melekat di ingatan, kasus bunuh diri yang terjadi di jembatan di Tukad Bangkung, Desa Pelaga, Kecamatan Petang, Badung. Pada tanggal 18 Maret 2025, seorang oknum anggota Polisi Polda Bali melakukan aksi bunuh diri dengan melompat dari jembatan setinggi kurang lebih 71 meter tersebut.

Lalu beberapa pekan setelahnya, tepatnya pada tanggal 3 April, seorang wanita muda melakukan aksi bunuh diri dengan cara yang sama di lokasi tersebut. Selain itu, ada sederetan kasus bunuh diri juga di beberapa tempat di tahun 2025 ini di Bali. Lantas, apa yang menyebabkan orang di Bali cukup rentan bunuh diri?.

Nena Mawar Sari S. Psi.,Psikolog Cht- Psikolog Klinis dan Hipnoterapis RSUD Wangaya dan Bali Psikologi menjelaskan, umumnya orang melakukan bunuh diri karena depresi.

Dimana salah satu ciri depresi adalah, dimana seseorang merasa tidak berharga, merasa tidak pantas lagi untuk hidup, sekolah masalah yang dihadapi tidak ada jalan keluar, merasa buntu.

Di sisi lain, bisa juga orang bunuh diri karena masalah klinis, sehingga memperkuat keinginan untuk bunuh diri.

Nena menjelaskan, ada sederet penyebab kenapa orang Bali rentan bunuh diri. Menurutnya, sebelum masa covid 19, orang-orang belum cukup peduli tentang kesehatan mentalnya.

”Sesuai dengan pengalaman saya setelah Covid itu baru banyak pasien-pasien saya yang berdomisili di Bali untuk berkonsultasi. Mereka baru aware tentang kesehatan mental setelah covid," katanya kepada Jawa Pos Radar Bali.

Lanjut dia, umumnya masyarakat Bali sangat terikat dengan budayanya yang kuat. Menjaga nama baik keluarga adalah salah satu hal yang paling utama dalam sebuah keluarga.

Sehingga hal ini kadang menjadi alasan mereka untuk tak datang ke psikolog untuk sekadar berkonsultasi perihal kesehatan mental.

Orang-orang menjadi enggan ke psikolog karena takut dianggap atau digosip kan sebagai orang yang memiliki masalah kejiwaan.

Walhasil, Masalah kesehatan mental yang dialami dibiarkan begitu saja. Hal ini membuatnya menjadi susah untuk keluar dari lingkaran depresi.

”Kemudian mungkin di Bali tidak ada budaya untuk deep talk. Jadi jarang sekali ada anggota keluarga yang menanyakan kabar tentang bagaimana tentang psikologisnya. Lebih banyak (bertanya) tentang kapan punya anak, kapan punya anak laki-laki. Mungkin seperti itu yang membuat rentan untuk seperti bunuh diri," bebernya.

Lebih jauh, Nena mengatakan edukasi di tengah masyarakat terkait bahaya depresi juga masih sangat minim.

Gejala yang terlihat seperti mulai tak mau bersosialisasi, kurang fokus, enggan ketemu orang lain, lalu adanya rasa produkstifitas menurut, mood menurun kerap tak disadari. Padahal gejala-gejala itu sudah masuk dalam rentan depresi.

”Tapi di daerah pedesaan jarang mendapatkan informasi bahwa kondisi itu adalah kondisi depresi.

Tenaga kesehatan di bidang mental juga perlu memberikan edukasi, terutama di daerah-daerah (terpencil)," urainya.

 Baca Juga: Liburan ke Bali Rasa Sultan Budget Ekonomis, Simak 6 Rekomendasi Wisata di Sini

Terkait penyebab depresi karena masalah pekerjaan yang berujung aksi bunuh diri, Nena menjelaskan bahwa biasanya persoalan di dunia kerja hanya jadi pemicu.

”Biasanya masalah pekerjaan hanya pemicu.  Sedangkan di bawahnya itu sudah ada masalah-masalah yang lebih kompleks sebelumnya. Seperti trauma, tekanan, tidak dihargai, tidak diterima, merasa bahwa dirinya tidak berguna. Kemudian ada pemicunya yaitu masalah pekerjaan. Itu menjadi alasan untuk bunuh bisa melakukan diri. Padahal mungkin tidak tunggal ya. Tidak mungkin ada orang yang beban kerjanya banyak, kemudian bunuh diri," pungkasnya.***

Editor : M.Ridwan
#psikolog #bunuh diri #ulah pati #angka bunuh diri #psikiater