Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Kisah Kamus Lusuh di Sela Jajanan : Ni Wayan Suarni, Nenek 78 Tahun yang Gigih Belajar Bahasa Inggris di Jatiluwih, Tabanan

Juliadi Radar Bali • Rabu, 3 Desember 2025 | 19:10 WIB
PEKERJA KERAS : Ni Wayan Suarni (kanan) yang berjualan makanan ringan  di Jatiluwih, Penebel, Tabanan, sedang bercakap dengan turis asing. (juliadi/radar bali)
PEKERJA KERAS : Ni Wayan Suarni (kanan) yang berjualan makanan ringan di Jatiluwih, Penebel, Tabanan, sedang bercakap dengan turis asing. (juliadi/radar bali)

 

Di tengah hamparan sawah terasering Jatiluwih yang diakui sebagai Warisan Budaya Dunia (WBD), ada sapaan unik yang selalu terdengar dari salah satu pedagang makanan yang gigih, ulet,ngotot belajar Bahasa Inggris.

LONTARAN-LONTARAN Bahasa Inggris patah-patah logat Bali itu jelas terdnegar. "Food-food, Chi-chi cocktail, drink-drink, coconut-coconut!"ujarnya, dengan pede. Dadong (nenek) gaek ini cukup percaya diri.

Sapaan polos dan penuh semangat itu dari  sosok Ni Wayan Suarni, seorang pedagang lanjut usia (lansia) yang kini berusia 78 tahun. Baginya, ilmu memang wajib dipelajari hingga akhir hayat.

Yang membuat Suarni istimewa bukan hanya semangat berdagangnya. Tetapi juga alat yang selalu ia bawa: sebuah Kamus Ideal bergambar yang lusuh, berisi materi grammar and conversation.

Di usianya yang hampir menyentuh kepala delapan, Suarni bertekad keras menguasai Bahasa Inggris agar dagangannya, mulai dari makanan ringan, minuman, hingga kerajinan topi petani (caping), laku keras di mata wisatawan mancanegara (wisman).

Dari Petani ke Pedagang Kamus Berjalan

Suarni, yang berjualan di depan Resto Jatiluwih, mengaku baru sekitar lima bulan menggeluti dunia pariwisata. Sebelumnya, ia adalah seorang petani yang juga pernah berjualan canang, baju batik Pekalongan, hingga kain endek keliling.

"Baru lima bulan saya berdagang. Dulu petani menanam padi," ungkap Suarni saat ditemui pada Selasa (2/12/2025).

Keputusan beralih profesi ini didorong oleh tuntutan ekonomi keluarga. Berjualan di kawasan internasional seperti Jatiluwih menuntutnya untuk bisa berkomunikasi dengan pembeli asing.

"Mau tidak mau saya harus belajar. Bersyukur ada buku kamus Bahasa Inggris milik dari cicit saya yang tidak dipakai. Itu saya bawa sambil jualan," katanya dengan tulus.

Kesulitan di Angka Puluhan Ribu

Buku kamus tersebut menjadi senjata utama Suarni saat transaksi. Ketika wisman bertanya harga, ia harus cepat-cepat mencari angka dalam kamus.

"Saya lihat buku kamus sambil baca angka dengan bacaan Inggris," jelasnya.

Namun, ia mengaku kesulitan terbesar datang saat harus menyebut harga dalam nominal puluhan ribu, seperti ten thousand atau twenty thousand. Jika benar-benar mentok, ia memilih jalan pintas.

"Bahkan kalau saya tidak bisa baca, saya tunjukkan langsung kepada wisatawan angkanya. Ini loh harganya," cerita Suarni. Tak jarang, ia juga meminta bantuan pemandu wisata (guide) yang lewat untuk menerjemahkan.

Raup Omzet Jutaan

Kegigihan Suarni berbuah manis. Meskipun harus berjuang keras dengan kamus, dagangannya laris manis. Dalam sehari, rata-rata ia mampu meraup omzet penjualan makanan ringan hingga Rp800.000.

Bahkan, pada hari-hari ramai wisatawan, omzetnya bisa menembus Rp1 juta per hari. Hasil penjualan ini harus ia sisihkan untuk sewa tempat sebesar Rp300.000 per bulan, ditambah biaya kebersihan Rp25.000.

Kisah Ni Wayan Suarni membuktikan bahwa usia hanyalah angka, dan di kawasan subak Jatiluwih, semangat belajar—sekalipun hanya dengan kamus lusuh—adalah kunci sukses menghadapi era pariwisata global.[*]

Editor : Hari Puspita
#bahasa inggris #Jatiluwih #tabanan #pedagang makanan #menuntut ilmu