Pura Alas Angker di Desa Kerta, Payangan, Gianyar, ini merupakan salah satu pura sakral di Bali. Pura ini biasa dijadikan tujuan memohon keberuntungan bagi krama Hindu Bali. Pura ini merupakan salah satu warisan perjalanan spiritual Ida Rsi Markandeya dengan aura nan khas bagi yang mampu merasakannya.
KISAH masa lampau, lebih dari 1.000 tahun itu seperti dituturkan Kades Desa Kerta, Made Gunawan menjelaskan, pura ini sudah ada sejak dahulu kala. Awalnya pura ini didirikan dari warisan perjalanan suci dari Ida Rsi Markandeya. Saat awal berdiri, pura ini bernama Pura Wana Angker.
Rsi Markandeya adalah putra dari Merkandu dan Marudmati, dari India bagian selatan. Rsi ini disebutkan beberapa kali dalam kisah-kisah Purana. yakni dalam Markandeyapurana.
Rsi Markandeya dikenal sebagai sosok yogi atau pendeta Hindu Siwa Tatwa asal India. Rsi Markandeya tiba di bumi Nusantara ini pada awal abad ke- 8 Masehi di Gunung Dieng, Jawa Tengah, yang ada era abad itu dalam wilayah kerajaan Mataram Kuno yang dipimpin raja Wangsa Sanjaya.
Singkat cerita, Rsi Markandeya menjelajah wilayah Nusantara saat itu dari Dieng, Jawa Tengah, kemudian melanjutkan perjalanan ke arah timur. Kalau sekarang ke Jawa Timur, kemudian menuju Bali.
“Karena di tempat ini mengakhiri perjalanan beliau yang pertama beliau mendapatkan penghalangan bersama pengikutnya. Ini karena pura ini angker sekali. Banyak pengikutnya yang kena wabah. Ada yang diterkam binatang buas, ular dan penyakit lainnya,” terangnya pada Jumat (23/2/2024).
Baca Juga: Menari dengan Pakaian Seronok di Pura Besakih, Tiga WNA Rusia Akan Minta Maaf Secara Niskala
Karena mendapat banyak musibah, banyak pengikut dari Ida Rsi Markandeya yang memutuskan melarikan diri ke wilayah lain. Seperti ke Banjar Seming, Buntah dan Marga Tengah dan beberapa kawasan lain di Gianyar.
Karena banyaknya pengikutnya yang mendapat musibah, sehingga Ida Rsi Markandiya Lalu kembali ke Gunung Raung Banyuwangi, Jawa Timur untuk bertapa."Setelah bertapa beliau kembali ke Bali, lalu melakukan upacara memohon petunjuk, memohon izin kepada yang Maha Kuasa di sini," bebernya.
Benar saja, setelah meminta petunjuk yang Maha Kuasa, Ida Rsi Markandeya dan lengikutnya pun mulai bercocok tanam. Hasilnya pun memuaskan.
Tanah yang subur membuat tumbuhan pangan yang ditanam berbuah baik. Hal itu membuat masyarakat menjadi sejahtera. Sehingga wilayah tempat tinggal itu diberi nama kerta yang artinya sejahtera. [*]
Editor : Hari Puspita