NEGARA,radarbali.id - Kasus dugaan pencabulan terhadap anak di bawah umur kembali terjadi. Sorang anak yang masih kelas IV sekolah dasar, dicabuli orang dewasa yang tinggal di sekitar sekolah. Perbuatan terduga pelaku buruh panggul itu, membuat korban anak trauma dan tidak mau berangkat sekolah.
Trauma korban tidak mau berangkat sekolah inilah, awal mula terungkapnya perbuatan cabul yang dialami korban. Anak korban berusia 10 tahun ini, beberapa hari tidak mau masuk sekolah.
Karena anak korban mengurung diri dan tidak mau sekolah, didesak orang tuannya agar masuk sekolah dan menceritakan peristiwa yang dialami. Setelah beberapa hari berlalu, akhirnya anak korban mengakui telah menjadi korban pencabulan seseorang yang ada di dekat sekolahnya.
Pengakuan anak korban ini, membuat orang tuanya melapor ke Polres Jembrana. Polisi lalu melakukan pemeriksaan terhadap korban dan mengamankan terduga pelaku.
Kasatreskrim Polres Jembrana AKP Agus Riwayanto Diputra membenarkan adanya laporan tersebut. Laporkan diterima Jumat (10/11) lalu, selang 10 hari setelah kejadian dugaan pencabulan. Laporan setelah pencabulan terungkap dari korban yang mengurung diri di rumah. "Kejadiannya sudah dari 10 hari yang lalu dan baru dilaporkan," ungkapnya.
Korban sudah diperiksa dan mendapat pendampingan untuk memulihkan psikologi anak korban. Pihaknya juga sudah membawa anak korban ke rumah sakit untuk menjalani visum.
Terduga pelaku pencabulan juga sudah diamankan untuk pemeriksaan dan melengkapi alat bukti dugaan pencabulan yang dialami anak korban. "Terduga pelaku masih menjalani pemeriksaan," tegasnya.
Kepala Unit Pelaksana Teknis Daerah Perlindungan Perempuan dan Anak (UPTD PPA) Kabupaten Jembrana Ida Ayu Sri Utami Dewi mengatakan, pihaknya sudah mendapat informasi adanya kasus dugaan pencabulan tersebut. Karena korban masih trauma, rencananya hari akan melakukan pendampingan kepada korban.
"Kami rencananya besok melihat kondisi korban. Untuk pemulihan psikologis nanti kita dampingi konseling di Denpasar," ujarnya.
Pihaknya juga akan melakukan upaya lebih maksimal agar kasus kekerasan seksual terhadap anak di Jembrana bisa diminimalisir.
"Kami sudah sering lakukan upaya sosialiasi dan edukasi, agar kasus kekerasan seksual terhadap anak bisa dicegah," ungkapnya.
Pihaknya juga berharap dukungan dari lingkungan dan keluarga agar mewaspadai anak-anaknya menjadi korban kekerasan seksual. ***
Editor : M.Ridwan