Oleh: Santy Sastra
(Mindset Motivator & Hypnoterapist)
HAMPIR setiap orang pernah membandingkan diri dengan orang lain. Melihat teman sudah punya rumah. Melihat tetangga anaknya berprestasi. Melihat orang di media sosial hidupnya tampak sempurna.
Membandingkan memang wajar. Itu cara otak mengukur diri. Masalahnya muncul saat perbandingan itu membuat kita merasa kecil dan tidak berharga.
Perilaku membandingkan sering dimulai dari hal kecil. Satu foto di media sosial bisa membuat kita lupa dengan semua usaha yang sudah kita lakukan.
Yang berbahaya adalah kita membandingkan bagian terburuk dari diri kita dengan bagian terbaik dari orang lain. Kita hanya melihat hasilnya, bukan prosesnya.
Akibatnya kita jadi tidak bersyukur. Punya satu, ingin dua. Sudah bekerja keras, tetap merasa kurang. Bahagia orang lain dianggap mengurangi bahagia kita.
Padahal hidup setiap orang punya garis start yang berbeda. Ada yang mulai lebih dulu. Ada yang jalannya lebih terjal. Tidak bisa disamakan begitu saja.
Membandingkan juga membuat kita fokus ke luar, bukan ke dalam. Energi habis untuk melihat rumput tetangga. Padahal rumput kita sendiri belum disiram.
Tanda kita terlalu sering membandingkan adalah mudah cemas, sulit tidur, dan tidak pernah puas. Senyum di wajah ada, tapi hati terasa kosong.
Cara menghentikannya bukan dengan memaksa berhenti. Tapi dengan mengalihkan fokus. Tanyakan pada diri, apa yang bisa saya syukuri hari ini.
Catat tiga hal kecil yang sudah kita capai. Bisa bangun pagi, bisa menyelesaikan pekerjaan, bisa membantu orang. Hal kecil itu bukti kita bertumbuh.
Bandingkan diri kita hari ini dengan diri kita kemarin. Apakah lebih sabar. Apakah lebih disiplin. Itu perbandingan yang sehat dan membangun.
Batasi waktu di media sosial jika membuat tidak nyaman. Tidak semua yang terlihat di layar adalah kenyataan utuh. Banyak yang hanya disorot bagian bagusnya.
Belajar ikut senang atas keberhasilan orang lain. Itu tidak mengurangi jatah kita. Rezeki dan waktu setiap orang memang berbeda.
Ingat, kita tidak sedang lomba. Hidup bukan tentang siapa paling cepat. Hidup tentang menjadi versi terbaik dari diri sendiri.
Saat kita berhenti membandingkan, hati jadi lebih tenang. Kita bisa menikmati proses. Dan baru sadar, ternyata kita sudah sejauh ini. (ss/han)
Editor : Rosihan Anwar