Sama sekali di luar dugaan. Memasuki kuartal pertama tahun 2026, industri tenun tradisional di Kabupaten Klungkung mulai merasakan "angin kencang" dari ketidakpastian global.
SEJAUH ini memang masih ada aktivitas penjualan. Permintaan untuk kain kelas premium tetap ada, para perajin kini harus berjuang menghadapi tren penurunan daya beli dan ancaman kelangkaan bahan baku impor.
Dampak Geopolitik dan Ekonomi Global
Keresahan masyarakat terhadap kondisi ekonomi dunia serta konflik yang berkecamuk di sejumlah negara ditengarai menjadi pemicu utama.
Konsumen kini cenderung lebih selektif dan berhati-hati dalam mengalokasikan anggaran mereka untuk barang-barang non-primer.
”Pesanan kain tenun eksklusif seperti songket dengan harga jutaan sebenarnya masih tetap mengalir, terutama dari pesanan pribadi untuk kebutuhan pernikahan. Namun, secara keseluruhan memang ada penurunan tren sejak awal tahun 2026,” ujar Agus Askara, salah satu pengusaha tenun setempat.
Krisis Bahan Baku Impor
Selain penurunan omzet, ancaman serius muncul dari sisi produksi. Agus mengungkapkan bahwa bahan baku krusial—seperti benang emas merek tertentu—mulai sulit didapatkan di pasaran.
Para distributor melaporkan kekosongan stok tanpa alasan yang pasti, meski diduga kuat berkaitan dengan hambatan distribusi internasional.
Untuk saat ini, operasional masih berjalan berkat cadangan stok yang ada:
- Ketahanan Stok: 4 hingga 5 bulan ke depan.
- Kondisi Pasar: Distributor menyatakan barang kosong.
- Prediksi: Potensi kenaikan harga bahan baku karena ketergantungan pada impor.
Strategi Bertahan di Tengah Persaingan Ketat
Mengingat pasar kain tenun di Bali sangat kompetitif, Agus memilih untuk tidak terburu-buru menaikkan harga jual. Baginya, menjaga loyalitas konsumen jauh lebih penting daripada margin keuntungan sesaat.
"Jika kenaikan harga bahan baku nanti tidak terlalu signifikan, saya akan berusaha mempertahankan harga lama agar konsumen tidak berpaling," imbuhnya.
Untuk itu, ia mengaku sangat berhati-hati dalam melakukan penyesuaian harga agar konsumen tidak berpaling. ”Untuk harga tenun songket, itu kisaran Rp2 juta – Rp12 juta per lembar. Sementara untuk tenun endek, harganya berkisar Rp250 ribu – Rp3,5 juta per lembar,” tandasnya.[*]
Editor : Hari Puspita