DENPASAR, radarbali.jawapos.com - Tahun Baru Imlek 2025 tinggal beberapa hari lagi. Masyarakat Tionghoa biasanya melakukan persembahyangan di vihara saat merayakan Galungan China, istilah perayaan imlek di Bali.
Wisatawan dan krama Bali yang merayakan imlek dapat mengunjungi salah satu dari lima vihara di Bali berikut ini:
1. Kelenteng Ling Gwan Kiong, Singaraja
Kelenteng ini merupakan salah satu kelenteng tertua di Bali karena dibangun pada 1873. Lokasinya berada di Pelabuhan Tua Buleleng di Singaraja.
Pada saat imlek, kelenteng ini menjadi tempat yang wajib dikunjungi keturunan Tionghoa di wilayah utara Bali. Akulturasi budaya juga sangat terasa karena gamelan Bali yang ditabuh Sekaa Gong Taman Sari dari Kelurahan Kampung Baru di Singaraja mengiringi persembyangan umat.
Pada malam hari, kelenteng ini biasanya menampilkan atraksi barongsai dan tari Naga Liong di areal Pelabuhan Buleleng. Kedua tarian tersebut diyakini mengusir roh jahat serta mendatangkan kesuksesan dan keberuntungan sepanjang tahun.
Pada malam pergantian tahun, perayaan tutup tahun dipungkasi dengan pesta kembang api.
2. Vihara Satya Dharma, Benoa
Vihara Satya Dharma atau Caow Eng Bio adalah kelenteng terbesar dan paling tenar di Bali. Letaknya juga strategis, yakni di kawasan Pelabuhan Benoa di Denpasar.
Kelenteng ini merupakan tempat ibadah bagi umat Buddha, Taoisme, dan Konghucu (Tri Dharma) yang dibangun pada 1991 dan didedikasikan untuk Dewa Samudera.
Vihara ini dibangun dengan arsitektur yang menunjukkan akulturasi dengan Hindu Bali. Salah satunya ditunjukkan dengan keberadaan pelinggih dan tugu karang di pojok bagian depan vihara.
Pada saat imlek, vihara ini biasanya menerima kunjungan 2 ribu umat yang melakukan persembahyangan dalam sehari. Wisatawan yang hadir juga dapat melihat prosesi persembahyangan, pertunjukan barongsai, dan pesta kembang api.
3. Griya Kongco Dwipayana, Pemogan
Kelenteng lain yang dapat dikunjungi saat merayakan tahun baru Imlek 2025 adalah Griya Kongco Dwipayana atau Ling Sii Miao di Jalan Tanah Kilap, Pemogan, Denpasar.
Kelenteng yang bersebelahan dengan Pura Luhur Candi Nirmala Tanah Kilap ini berdiri sejak 1999. Meski demikian, kelenteng itu menyimpan prasasti bahwa utusan Dinasti Qing pada 500 tahun lalu telah menginjakkan kaki di kelenteng tersebut.
Selain masyarakat Tionghoa di Denpasar, kelenteng ini juga kerap menjadi tempat persembahyangan wisatawan Tiongkok, Jepang, Korea, Thailand, Malaysia, dan Singapura. Gus Dur juga pernah mengunjungi kelenteng tersebut saat menjabat presiden keempat Indonesia.
Akulturasi budaya dengan Hindu Bali juga sangat kental di kelenteng tersebut. Antara lain ditunjukkan dengan gambar Sang Hyang Acintya.
Selain itu, tepat di sebelah Pagoda Dewi Kwan Im Lengan Seribu dan Panglima Tio Kei berdiri pelinggih Padmasana Ratu Gede Pengenter Jagat Ratu Mas Rajeg Bumi.
4. Vihara Amurva Bhumi, Blahbatuh
Vihara Amurva Bhumi berada di Kemenuh, Blahbatuh, Gianyar. Ratusan umat dan wisatawan mengunjungi vihara tersebut setiap hari karena selain sebagai tempat ibadah, vihara tersebut juga berfungsi sebagai pusat pendidikan dan budaya bagi umat Buddha.
Vihara yang lebih dikenal sebagai Kongco Blahbatuh ini berdiri sejak 1826. Pendirinya diperkirakan imigran asal Hainan yang juga mendirikan Vihara Caow Eng Bio di Tanjung Benoa.
Umat dan wisatawan dari luar negeri biasanya mengunjungi vihara yang telah dipugar empat kali ini sebelum mengunjungi Pura Batur di Bangli, dan Vihara Dharma Giri di Pupuan, Tabanan.
5. Vihara Dharmayana, Kuta
Vihara yang lebih dikenal dengan Kongco Leeng Gwan Bio ini berada di Jalan Blambangan, Kuta, Badung, yang merupakan salah satu dari sembilan tempat ibadah Tridharma yang memuja Tan Hu Cin Jin (Chen Fu Zhen Ren), salah satu arsitek Pura Taman Ayun di Mengwi, Badung.
Vihara ini sangat tenar dan dikunjungi wisatawan asal Taiwan dan Korea karena pernah dikunjungi oleh peraih Nobel Tenzin Gyatso (Dalai Lama ke-14). Meski vihara ini digunakan untuk umat Tri Dharma, terdapat tempat sembahyang khusus untuk umat Budha yang bernama Dharmasala.
Pada saat imlek, Vihara Dharmayana akan dimeriahkan dengan penampilan liong dan barongsai di Gedung Serbaguna. ***
Editor : Ibnu Yunianto