RADAR BALI – Pemerintah Indonesia secara resmi menawarkan peluang investasi pada proyek infrastruktur strategis, termasuk Jalan Tol Gilimanuk–Mengwi segmen Pekutatan–Mengwi, kepada para investor asal Tiongkok.
Penawaran ini disampaikan langsung oleh Direktur Jenderal Pembiayaan Infrastruktur Pekerjaan Umum, Rachman Arief Dienaputra, dalam forum China–Indonesia Investment Promotion 2025 yang berlangsung di Jakarta, Selasa (8/12).
Di hadapan delegasi China Mainland–Macau Joint Delegation, Dirjen PI memaparkan visi besar pembangunan infrastruktur Indonesia untuk periode 2025–2029.
Dengan total kebutuhan pendanaan mencapai Rp1.905 triliun dan adanya celah pendanaan (funding gap) sekitar 40 persen, pemerintah aktif membuka ruang kemitraan dengan sektor swasta internasional.
Fokus pada Proyek Jalan Tol dan Konektivitas
Dalam forum tersebut, terdapat 15 proyek Kerjasama Pemerintah dengan Badan Usaha (KPBU) potensial yang ditawarkan. Sektor Bina Marga menjadi sorotan utama dengan sembilan proyek jalan tol yang masuk dalam daftar, yang terbagi dalam beberapa tahap:
Tahap Penyiapan (Pra-FS): Selain Tol Gilimanuk–Mengwi segmen Pekutatan–Mengwi di Bali, pemerintah juga menawarkan Tol Pejagan–Cilacap (Jawa Tengah) dan Bandung Intra Urban Toll Road (Jawa Barat).
Proyek Unsolicited: Tol Sentul Selatan–Karawang Barat dan Tol Bitung–Serpong.
Tahap Perencanaan Awal: Akses Jalan Patimban Extension, Tol Caringin–Cisarua, Tol Pluit–Bandara, dan Tol Jatimulya–Bandara.
Diversifikasi Investasi: Air Minum dan Sumber Daya Air
Tak hanya jalan tol, Dirjen PI juga menawarkan proyek di sektor lain untuk mendukung keberlanjutan lingkungan dan kebutuhan dasar masyarakat:
Sumber Daya Air: Tiga proyek senilai Rp1,98 triliun (USD 123,8 juta), termasuk PLTM di Bendungan Leuwikeris dan Bendungan Cipanas, serta Daerah Irigasi Komering.
Cipta Karya: Tiga proyek unsolicited senilai Rp8,78 triliun (USD 548 juta) yang mencakup SPAM Balikpapan, SPAM Sinumbra, dan TPA Manggar di Balikpapan.
Fokus Segmen Pekutatan–Mengwi Rp 11,04 Triliun
Proyek Jalan Tol Gilimanuk–Mengwi, yang dikenal sebagai Tol Jagat Kerthi, menjadi salah satu daya tarik utama bagi investor.
Berdasarkan evaluasi terbaru, pembangunan kini difokuskan pada Segmen I (Pekutatan–Soka–Mengwi) sepanjang 42,1 kilometer.
Ruas ini dipilih karena dinilai paling prospektif secara ekonomi dengan potensi trafik kendaraan yang tinggi. Dengan estimasi nilai investasi awal sebesar Rp11,04 triliun, proyek ini diharapkan menjadi tulang punggung baru transportasi di Bali.
Linimasa Proyek:
Desember 2025: Target rampung pembaruan studi kelayakan (Final Business Case) dan desain dasar (basic design).
Kuartal IV 2026: Target memasuki tahap lelang resmi setelah pemenuhan readiness criteria (AMDAL, DED, dan pembebasan lahan).
2027 – 2028: Penandatanganan kontrak dan awal konstruksi.
2029: Target mulai beroperasi secara bertahap.
Skema Pembiayaan dan Dukungan Pemerintah
Untuk menarik minat investor Tiongkok, pemerintah menawarkan berbagai skema pembiayaan fleksibel seperti KPBU, penugasan BUMN, Land Value Capture, B2B, hingga blended finance.
Guna menjamin keamanan dan profitabilitas investasi, pemerintah juga menyiapkan berbagai bentuk dukungan, antara lain:
Mekanisme penyesuaian tarif tol.
Fasilitas libur pajak (tax holiday).
Pembiayaan pembebasan lahan melalui Lembaga Manajemen Aset Negara (LMAN).
Penjaminan proyek melalui PT Penjaminan Infrastruktur Indonesia (PII).
Langkah proaktif Kementerian Pekerjaan Umum ini menegaskan komitmen Indonesia dalam mempercepat pembangunan infrastruktur nasional melalui kolaborasi internasional.***
Editor : Ibnu Yunianto