BANGLI, radarbali.jawapos.com — Pusat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (P3M) Politeknik Pariwisata Bali melalui Program Studi Seni Kuliner melaksanakan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat.
Kali ini bertajuk “Pelatihan Pengolahan Produk Olahan Berbasis Pertanian Lokal untuk Mendukung Keterlibatan Perempuan dalam Layanan Pariwisata di Desa Pinggan, Kintamani” pada 30 April–1 Mei 2026 di Kantor Perbekel Desa Pinggan, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli.
Kegiatan ini menjadi bagian dari implementasi Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 5 (Kesetaraan Gender), SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi), SDG 11 (Komunitas Berkelanjutan), dan SDG 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab) melalui pemberdayaan 30 peserta perempuan yang berasal dari unsur PKK, petani, pelaku usaha lokal, hingga pelajar di Desa Pinggan.
Selama dua hari pelaksanaan, peserta mendapatkan pelatihan hygiene dan sanitasi pangan, strategi kewirausahaan berbasis bahan lokal, serta praktik pengolahan komoditas pertanian desa menjadi produk bernilai tambah.
Komoditas seperti cabai, tomat, dan labu siam diolah menjadi lima inovasi produk kuliner, yaitu HOCE (Hot Chilli Sauce Pinggan), SOMAT! (Saus Tomat Pinggan), Chili Jam Pinggan, Tomato Jam Pinggan, dan Labu Mustofa Pinggan.
Kelima produk tersebut dikembangkan sebagai bentuk hilirisasi hasil pertanian lokal sekaligus embrio signature culinary product Desa Pinggan.
Kegiatan secara resmi dibuka oleh Ketua Jurusan Hospitaliti Politeknik Pariwisata Bali, I Made Rumadana, S.E., M.Par.
Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa pengembangan produk berbasis bahan lokal tidak hanya berkaitan dengan kuliner, tetapi juga merupakan bagian dari strategi membangun daya saing destinasi melalui keterlibatan masyarakat.
“Melalui kegiatan ini, kami ingin memastikan potensi lokal Desa Pinggan tidak hanya dipanen, tetapi juga diolah menjadi produk bernilai ekonomi yang mampu masuk ke rantai pasok pariwisata,” ujarnya.
Apresiasi juga disampaikan oleh Penjabat Perbekel Desa Pinggan, Ni Ketut Daniati, S.E., yang menilai kegiatan ini membuka perspektif baru bagi masyarakat, khususnya perempuan, dalam melihat potensi hasil pertanian lokal sebagai peluang usaha.
“Selama ini hasil pertanian banyak dijual dalam bentuk bahan mentah.
Melalui pelatihan ini, masyarakat mendapatkan wawasan baru bahwa produk lokal bisa diolah, dikemas, diberi identitas, dan memiliki nilai jual yang lebih tinggi.
Ini menjadi peluang nyata bagi perempuan desa untuk ikut berperan dalam penguatan ekonomi keluarga maupun desa,” ungkapnya.
Kegiatan kemudian ditutup oleh Koordinator Program Studi Seni Kuliner Politeknik Pariwisata Bali, I Made Purwa Dana Atmaja, S.ST.Par., M.Pd.
Ia berharap inovasi yang telah dihasilkan tidak berhenti pada kegiatan pelatihan, tetapi dapat berkembang menjadi signature culinary product yang memperkuat posisi Desa Pinggan sebagai destinasi wisata berbasis alam, budaya, dan kuliner.
Melalui kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah desa, dan masyarakat, Desa Pinggan kini tidak hanya dikenal melalui keindahan lanskap pegunungannya, tetapi juga mulai menapaki langkah baru menuju penguatan identitas sebagai desa wisata dengan produk kuliner khas berbasis pertanian lokal.
Editor : Rosihan Anwar