DENPASAR, radarbali.id– Aturan yang diterbitkan Persatuan Sepak Bola Indonesia (PSSI) bersama operator kompetisi PT. Liga Indonesia Baru (LIB), yakni melarang secara resmi suporter tamu untuk datang ke markas tim tuan rumah tampaknya sulit diberlakukan. Sejumlah suporter tamu masih bengkung alias bandel dengan sifat keras kepala untuk melabrak aturan tersebut.
Hingga pekan ke-11 di Liga 1 musim 2023/2024, masih ditemukan oknum suporter yang nekat datang tanpa atribut dan embel-embel sebuah tim demi bisa lolos berada di dalam stadion untuk mendukung tim kebanggaanya bermain. Dampaknya, tim suporter tuan rumah pun merasa tersinggung dan aksi kekerasan akibat gesekan antar suporter.
Bahkan, tidak hanya soal kekerasan baik melalui aksi lemparan botol yang menyebabkan kerusuhan baik didalam maupun luar stadion, kini juga mulai mengarah ketindakan rasisme. Hal itu terkadang tidak mampu dikontrol oleh tim tuan rumah hingga terjadi beberapa aksi tidak mengenakan ketika hasil akhir sebuah pertandingan menjadi sebuah alasan.
Pelatih Bali United, Stefano “Teco” Cugurra mengingatkan kembali agar tidak terulangnya tragedi Kanjuruhan yang menimbulkan korban hingga dihentikannya kompetisi sepak bola di Indonesia dan bahkan jadi perhatian dunia. “Kita semua tentu tidak boleh lupa peristiwa yang terjadi di Malang pada Liga 1 musim lalu,” ungkap Coach Teco.
Pelatih asal Brasil ini berharap agar para suporter ini bisa bijaksana dalam mendukung tim kebanggaannya berlaga di arena pertandingan.“Suporter harusnya bisa datang buat menikmati pertandingan dengan bijaksana dan setelah pertandingan semua bisa balik pulang ke rumah dengan aman serta selamat,” harap Teco.
Di sisi lain, salah satu pentolan suporter Bali United, Ketut Subudi melihat PSSI harus segera mencarikan solusi. Jika persoalan ini berlarut-larut, akan menjadi bom waktu di kemudian hari. Sebab, kehadiran suporter tamu untuk mendukungnya saat laga away adalah hal yang wajar di seluruh dunia.
“Soal larangan suporter untuk away, kalau itu berlaku untuk semua suporter di Indonesia sih nggak apa karena mungkin masih trauma dengan kasus yang terjadi di Gajayana Malang tapi untuk kedepannya harus dicarikan solusi juga oleh pihak PSSI, karena menurut saya suporter mendukung tim saat away adalah hal yang wajar di seluruh dunia,” ujarnya.
Pria yang menjadi ketua Semeton Buldog ini juga berharap pihak keamanan harus sigap untuk menegakan aturan yang ada. “Kalau ada menerobos masuk artinya dari pihak keamanan juga harus mengantisipasi tentang hal itu apalagi sampai terjadi kerusuhan karena kan sudah ada aturan sementara kalau pendukung tim tamu untuk sementara tidak boleh mendukung tim saat away,” pungkasnya. ***
Editor : M.Ridwan