TABANAN, RadarBali.id – Meski sebagian wilayah Tabanan mulai memasuki musim kemarau, cuaca ekstrem berupa hujan lebat masih menghantui wilayah pegunungan.
Pada Rabu (15/4/2026), musibah tanah longsor dan ancaman infrastruktur kritis dilaporkan terjadi di dua titik berbeda di Kabupaten Tabanan.
Baca Juga: Atasi Longsor, Sampah Kering TOSS Center Dipakai Jadi Urukan Jurang
Di Kecamatan Pupuan, hujan deras memicu jebolnya tembok senderan milik I Gusti Putu Suaryasa di Banjar Belimbing Anyar.
Reruntuhan tembok tersebut menghantam rumah dan dapur semi permanen milik tetangganya, I Ketut Sudiartayana, hingga roboh.
Baca Juga: Usai Bencana Banjir dan Longsor Jembrana Berbenah, BPBD Fokus Bersihkan Endapan Lumpurradar
- Kerugian: Estimasi mencapai Rp105 juta (Rp35 juta untuk senderan dan Rp70 juta untuk bangunan rumah/daput).
- Respons: BPBD Tabanan telah turun tangan menyalurkan logistik dan membantu pembersihan puing. Camat Pupuan, I Gusti Kade Dwipayana, mengingatkan warga untuk ekstra waspada mengingat Pupuan merupakan zona merah longsor.
Sementara itu di Kecamatan Marga, Jembatan penghubung strategis antara Desa Peken Belayu dan Desa Kukuh kini dalam kondisi kritis.
Tebing di sisi jembatan tua sepanjang 200 meter tersebut terus terkikis aliran Sungai Yeh Gangga. Kondisi semakin diperparah oleh getaran kendaraan bertonase besar yang setiap hari melintas.
- Risiko: Jembatan ini tidak memiliki pondasi besi dan berdiri di atas terowongan. Jika putus, akses vital Tabanan-Badung akan lumpuh, serta mengancam keberadaan Pura Anyar dan Pura Agung di bawahnya.
- Status: Laporan telah diteruskan ke Provinsi Bali karena merupakan jalur provinsi, sementara BPBD mulai memangkas pohon di sekitar lokasi untuk mengurangi beban tebing.[*]